Selasa, 31 Mei 2011

Hakikat manusia menurut para filosof



Hakikat manusia menurut para filosof
Socrates mengatakan bahwa belajar yang sebenarnya ialah belajar tentang manusia. Kalimat ini sangat mendasar. Manusia mengatur dirinya, dia membuat peraturan untuk itu, manusia mengatur alam dan ia membuat aturan untuk itu, manusia mengurus dirinya dan alam berdasarkan manusia itu sendiri. Manusia adalah sentral segalanya. Jadi wajar jika manusia semestinya mengenali siapa manusia itu sebenarnya.
Socrates (470-399 SM), orang Athena mengungkapkan pemikirannya tentang manusia dihadapan murid-muridnya. Sarlito (1978:30) mencatat sebagian pendapat Socrates tentang manusia. Dikatakan antara lain bahwa pada diri manusia terpendam jawaban mengenai berbagai persoalan dunia. Menurut Socrates, manusia itu bertanya tentang dunia dan masing-masing mempunyai jawaban tentang dunia. Tetapi, demikian Socrates seringkali manusia itu tidak menyadari bahwa dalam dirinya terpendam jawaban-jawaban bagi persoalan yang dipertanyakan. Karena itu perlu ada orang lain yang membantu orang itu mengemukakan jawaban-jawaban yang masih terpendam tersebut. Perlu ada seseorang membantu orang itu melahirkan ide yang ada dalam manusia tersebut.
Berdasarkan pendapatnya itu, Socrates sering berjalan-jalan ditengah kota, dipasar, untuk berbicara dengan setiap orang yang dijumpainya untuk menggali jawaban-jawaban yang ada didalam diri orang itu dengan menggunakan metode tanya jawab yang kelaknya disebut metode Socrates (Socrates method). Socrates mengatakan adalah kewajiban setiap orang untuk mengetahui dirinya sendiri lebih dahulu jika ia ingin mengetahui hal-hal diluar dirinya. Menururt Socrates, salah satu hakekat (essence) manusia adalah ia ingin tahu dan untuk itu harus ada orang yang harus membantunya yang bertindak sebagai bidan yang membantu bayi lahir dari rahimnya. Socrates dihukum mati pada tahun 399 SM oleh pengadilan Athena dengan tuduhan bahwa dia telah mempengaruhi pemikiran anak muda dengan pemikiran yang buruk. Socrates dikatakan merusak jiwa anak muda, ia mengajak anak muda memikirkan apa-apa diatas langit dan dibawah bumi, sementara itu, kata orang, socrates itu tidak tahu bahwa didepan rumahnya ada lobang yang ia sering terperosok kedalam lobang itu.
Plato adalah salah seorang murid Socrates. Dilahirkan dari keluarga terpandang di ibukota Yunani, Athena. Ia meninggal tahun 347 SM. Di masa hidupnya ia menikmati kemakmuran ekonomi, kemajuan perdagangan, dan sistem pemerintahan demokratis.
Menururt Plato jiwa manusia adalah entitas nonmaterial yang dapat terpisah dari tubuh. Menurutnya, jiwa itu ada sejak sebelum kelahiran, jiwa itu tidak dapat hancur alias abadi. Lebih jauh Plato mengatakan bahwa hakikat manusia itu ada dua yaitu rasio dan kesenangan (nafsu). Dua unsur yang hakiakt ini dijelaskan Plato dengan permislan seorang yang makan kue atau minum sesuatu, ia makan dan ia minum. Ini kesenangan, sementara rasionya tahu bahwa makanan dan minuman itu berbahaya baginya. Karena menikmati kelezatan (kesenangan) itu hakekat, maka rasio sekalipun juga hakekat, tidak sanggup melawannya. Menururt Plato, bila ada konflik batin pada seseorang, pasti terdapat perentangan dua elemen kepribadian pada orang itu, dua elemen yang sering bertentangan tujuannnya. Pada kasus orang yang haus asti ada elemen yang menyebabkan ia ingin minum dan ada elemen lain yang menolak melakukannya, elemen pertama disebut Plato nafsu, bagian kedua disebut rasio. Jadi, dalam pandangan Plato, rasio itu sering berlawanan dengan nafsu (yang menimbulkan kesenangan tadi).
            Pada bagian lain Plato berteori bahwa jiwa manusia memiliki tiga elemen, yaitu roh, nafsu, dan rasio. Dalam operasinya, dia mengandaikan roh itu sebagai kuda putih yang menarik kereta bersama kuda hitam (nafsu), yang dikendalikan oleh kusir yaitu rasio yang berusaha mengontrol laju kereta.
Berdasarkan pendidikan ini maka program pendidikan haruslah memebantu rasio dalam mengendalikan kereta tersebut.
Dalam hal hidup bermasyarakat, Plato berpendapat bahwa hidup bermasyarakat itu merupakan suatu keharusan bagi manusia, manusia tidak dapat hidup sendirian. seseorang yang hidup dipulau sendirian akan sulit hidup, karena aktifitas kemanusiaan seperti persahabatan, bermain, seni, politik, dan berpikir tidak terjadi di pulau itu. Implikasi teori ini adalah setiap manusia harus mempunyai minat dan bakat yang berbeda , dan dari situ akan muncul spesialisasi dan pembagian kerja.
Berdasarkan tiga unsur hakiakt manusia, Plato membagi menjadi tiga kelompok. Pertama, manusia yang didominasi oleh rasio yang hasrat utamanya ialah meraih pengetahuan Kedua, manusia yang didominasi roh yang hasrat utamanya ialah meraih reputasi, dan ketiga, manusia disominasi nafsu yang hasrat utamannya pada materi. Tugas rasio adalah mengontrol roh dan nafsu.
Agaknya Plato telah sampai pada salah satu konsep penting dalam pendidikan tatkala ia menyatakan bahwa masyarakat yang rusak akan menghasilkan individu-individu yang cacat, individu-individu yang cacat itu akan menyumbangkan kesulitan-kesulitan sosial bagi masyarakat. Karena itu stevenson dan habermen (2001:158) menilai Plato sebagai orang pertama yang melihat pendidikan sebagai kunci utama dalam membangun masyarakat.
Rene Descrates (1596-1650) adalah filosofi perancis. Ia amat menenkankan rasio pada manusia. Jadi, sama dengan Plato, Descrates berpendapat bahwa ada dua macam tingkah laku, yaitu tingkah laku mekanis yang ada pada binatang dan tingkah laku rasional yang ada pada manusia. Ciri rasional pada tingkah laku manusia ialah ia bebas memilih, pada hewan kebebasan itu tidak ada. Karena bebas memilih itulah maka pada manusia ada tingkah laku yang mandiri.
Dalam proses pemilihan itu rasio memegang peranan penting. Bahkan lebih dari itu Descrates berpendapat bahwa berpikir itu sangat sentral dalam manusia, manusia menyadari keberadaannya karena ia berpikir (cogito ergo sum). Sebagai penganut rasionalisme yang sangat fanatik Descrates hanya meyakini bahwa yang itu hanyalah dirinya sendiri karena satu-satunya yang ia ketahui adalah dirinya sendiri, ia memamng melihat benda atau orang lain , tetapi ia tidak yakin benda atau orang itu benar-benar ada seperti adanya dirinya. Ia meragukan segAla sesuatu diluar dirinya.
Sarlito (1978) mencatat pendapat Descrates ang mengatakan bahwa manusia memiliki emosi yang muncul dalam berbagai kombinasi yaitu cinta (love), gembira (joy), keinginan (desire), benci (rage), sedih (sorrow), dan kagum (wonder). Yang terpenting dalam pemikiran Descrates ialah pendapatnya tentang posisi sentral akal (rasio) sebagai esensi (hakikat) manusia.
Thomas hobbes (1588-1629) adalah tokoh aliran empirisme yang terkenal dengan teori mekanis dalam psikologi. Dalam teori mekanisnya ia mengatakan bahwa dalam



sumber: arfiatin .m

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar