Rabu, 24 November 2010

Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi

Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi
Penyebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawi dapat kita tinjau dari dua faktor sebagai berikut:
a.    Faktor internal
Parah Shah sesudah Shah Abbas I kurang memiliki bakat dan kecakapan untuk memimpin negara, mereka lebih suka hidup beroya-foya dari pada memikirkan negara dan masa depan kerajaannya, banyak wanita cantik dari Georgia yang dijadikan herem-herem istana untuk memuaskan nafsu oleh Shah Sulaiman, lebih mengutamakan ulama syi’ah yang memaksakan pendapat kepada aliran sunni sehingga membangkitkan kemarahan golongan sunni Afganistan yang akhirnya mereka berontak dan menentang. Kemudian bertambah parah lagi setelah pasukan Qizil-bash menekan para penguasa karena mereka digusur atau dikurangi perannya di istana oleh Abbas I, sementara pasukan Ghulam kurang militan.
Di samping itu hampir seluruh penguasa kerajaan Safawi tidak menyiapkan kader calon penggantinya secara baik sehigga keturunan kerajaan hanya mengandalkan haknya sebagai pewaris kerajaan tanpa berusaha secara maksimal untuk melatih kemilterannya dan mencari pengalaman menjadi pemimpin di luar istana.
b.    Faktor eksternal
Timbulnya kekecewaan golongan sunni akibat dari perlaukan Shah Husain yang lebih mengutamakan ulama syiah yang sering memaksakan pendapat para golongan sunni, maka pada tahun 1709 M, pasukan Afganistan dengan pimpinan Mir Vyas mengadakan pemberontakan dan berhasil menguasai Kandahar. Bagian lain suku Abdali Afganistan juga memberontak di Herat dan mengepung Mashad. Mir Vays diganti putranya Mir Mahmud dan ia berhasil memperkuat pendukungnya serta mempersatukan pasukan dengan pasukan Ardatil, lalu ia berusaha memperkuat wilayah kekuatannya dan merebut negeri-negeri Afganistan dari kekuasaan Safawi lalu berusaha menguasai Persia. Akhirnya Shah Husein terpaksa mengakui kekuasaan Mahmud dan kepadanya diberikan kekuasaan di Kandahar sebagai gubernur dengan gelar Husein Quli Khan (budak Husein). Pada tahun 1722 M daerah Kirmani diduduki dan Mahmud mengepung kota Istahan selama enam bulan lalu memaksa Husain menyerah tanpa syarat akhirnya pada tanggal 1 Muharam 1135 H / 12 Oktober 1722 M Shah Husein menyerah dan Mahmud berhasil memasuki kota Istahan pada tanggal 25 Oktober 1722 M.
Dengan meyerahnya Shah Husain kepada Mahmud, Sahh Tahmasp II putra Shah Husain dengan dukungan kekuatan pasukan suku Qajar memproklamasikan dirinya sebagai raja yang berkekuasaan penuh atas Persia dan bertempat tinggal sementara di kota Astarabad Persia timur laut tetapi pada tahun 1729 M muncul kekuatan baru. Nadir Quli dari suku Afshan yang tidak menginginkan wilayah Persia di bawah kerajaan orang-orang Afghan, Turki atau bangsa-bangsa lain sehingga Mahmud yang telah digantikan oleh Amir Ashraf saudaranya yang sedang menduduki kota Isfahan digempur oleh Nadir dan berhasil menduduki kota Istahan dan mempersilahkan Tahmasp II tetap menduduki tahta kerajaan, namun urusan keamanan dan ketatanegaraan untuk sementara masih berada di tangan Nadir Quli.
Pada bulan Agustus 1732 M Shah Tahmasp II dipecat oleh Nadir Quli, kemudian anak Tahsamp I bernama Abbas III menggantikannya sebagai Shah (raja) tetapi tanggal 24 Syawal 1184 H / 8 Maret 1736 Nadir Quli secara resmi dinobatkan sebagai Shah Iran, dengan demikian berakhir Dinansti Safaiyah.
Taufiqurohman, H. Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam, Surabaya: Pustaka Islamika, 2003.
Yatim, Badri. M.A. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, 2007.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar