Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 November 2011

Aliran-Aliran Psikologi

      Aliran-Aliran Psikologi
Setelah psikologi berdiri sendiri, lambat laun para ahli psikologi mengembangkan sistematika dan metode-metodenya sendiri yang berbeda satu sama lainnya. Dengan demikian timbul apa yang dimaksud aliran-aliran psikologi.
Sejak dahulu aliran-aliran itu sangat paenting artinya dalam membina semangat para ahli dalam berkompetensi mendapatkan penemuan-penemuan baru dan saling kritik dan koreksi terhadap aliran-aliran lawannya. Aliran-alirannya menjadi dasar dari teori-teori psikologi modern masa kini.
Di bawah ini dikemukakan beberapa aliran dengan teorinya masing-masing, yaitu:
  1. Strukturalisme
Struktur adalah sistem transformasi yang mengandung kaidah sebagai sistem yang melindungi diri tanpa keluar dari batasan-batasannya/masuknya unsur-unsur luar. Piaget menyabutkan 3 (tiga) sifat yang mencakup dalam sebuah struktur, yakni totalitas, tranformasi, dan pengaturan diri.
Struktur disebut juga sebuah bangunan yang terdiri diatas berbagai unsur yang satu sama lain berkaitan.
Pada pertengahan abad ke-19, merupakan awal berdirinya psikologi sebagai satu disiplin ilmu pengetahuan yang mandiri dan yang didominasi oleh gagasan serta usaha mempelajari elemen-elemen dasar dari kehidupan mental orang dewasa normal melalui penelitian laboratorim dengan menggunakan metode intropeksi maka disebut juga dengan nama psikologi strukturalisme, tokoh psikologi ini adalah Wilhelm Wundt.
Wilhelm Wundt berpendapat bahwa pengalaman mental yang komplek itu sebenarnya adalah “struktur” yang berdiri dari keadaan-keadaan mental yang sederhana seperti senyawa-senyawa kimiawi yang tersusun dari unsur-unsur kimiawi.
Aliran ini berpendapat bahwa untuk mempelajari gejala kejiwaan, kita harus mempelajari isi dan stuktur kejiwaan kaum strukturalis. Wundt menggunakan metode introspeksi (mawas diri), yaitu orang menjalani percobaan dimana untuk menceritakan kembali pengalamannya/perasaannya setelah ia melakukan suatu eksperimen karena metode introspeksi ini, strukturalisme dapat juga disebut sebagai psikologi introspeksi.
Ciri-ciri psikologi strukturalisme Wundt adalah penekanan pada analisis atas proses kesadaran yang dipandang terdiri atas elemen-elemen dasar, serta usahanya menemukan hukum-hukum yang membawa hubungan antar elemen kesadaran tersebut. Oleh karena itu, psikologi strukturalisme disebut juga psikologi elementalisme dan oleh para ahli psikologi lainnya. Wundt pada masa ini dipandang sebagai aspek yang utama dari kehidupan mental. Strukturalisme merupakan aliran psikologi pertama dalam psikologi, karena yang pertama kali dikemukakan oleh Wundt setelah ia melakukan eksperimen-eksperimennya di labotariom di Leipzig, Wundt percaya bahwa gejala-gejala kejiwaan dapat di bagi-bagi dalam elemen-elemen yang lebih kecil. Hanya dengan mengalisis berbagai elemen kejiwaan inilah kita bisa mempelajari kejiwaan.
Psikologi memakai dua prosedur pokok.
1. introspeksi 2. pengalaman objektive
Prosedur ini pada akhirnya menduduki posisi terpenting dalam psikologi eksperimen.
Wund pada masa ini juga sangat mengutamakan penyelidikkan tentang struktur kejiwaan manusia dan ia mendapati bahwa jika manusia itu terdiri dari berbagai elemen (bagian) seperti penyindraan, perasaan, ingatan, dsb.masing-masing elemen tiu di kaitkan satu dengan lain oleh asosiasi karena itu aliran Wundt di manaksan elementisme strukturalisme dan juga asosiasionisme.­­[1]
  1. Aliran Fungsionalisme (Functional psychology)
aliran psikologi ini merupakan reaksi dari strukturalisme tentang keadaan-keadaan mental, cara orang menggunakan pengalaman mental. Untuk menyelesaikan diri terhadap lingkungan sekitar, fungsionalisme menyatakan bahwa pikiran, proses mental, persepsi indraw! Dan emosi adalah adaptasi organisme biologis (Ash-Shadr, 1993:259-260) Draver (1988) fungsionalisme suatu jenis psikologi yang menggaris bawahi fungsi-fungsi dan bukan hanya fakta-fakta dari penomena mental.
Fungsionalisme merupakan paham yang komboh di amerika serikat dengan sifat-sifatnya yang serbapraktis dan piagmatis. Strukturalisme dan juga tumbuh di jerman di tengah –tengah bangsa yang berfilsafat dan bertiori dengan sendirinya perbedaan latas belakangan ini menimbulkan pula berbagai perbedaan dalam pandangan dalam pandangan antara kedua aliran ini
1.      terletak pada cara pendekatannya, strukturalisme mendekati suatu gejala psikis secara stuktural: pengalaman kesadaran dianalissis dalam unsur-unsur. Pengalaman kesadaran dilihat dalam hubungan dengan fungsinya untuk hidup dan menyesuaikan diri baik secara psikis maupun secara sosial.
2.      Fungsionalisme lebih menitik beratkan analisis dari seseorang
3.      strukturalisme berpandangan bahwa jiwa seseorang merupakan penggabung berbagai pengalaman desadaran .
Fungsionalisme beranggapan bahwa jiwa seseorang diperlukan untuk melangsungkan kehidupan dan fungsi untuk menyesuaikan diri yang menjadi meinat aliran fungsinalisme adalah tujuan atau akir dari aktivitas. Fungsionalisme mempelajari”fungsi” dari dari tingkah laku dan mental; tokoh aliran ini adalah William Jawes James. R. Agell, dan John Devey     
  1. Aliran Psikoanalisis
Aliran psikoanalisis di perkenalkan oleh sigmond Feud pada tahun 1909 dikenal dengan tiorinya mengenai alam ketidak sadaran.[2] Aliran ini berpendapat bahwa manusia adalah mahluk yang berkeinginan (home voles) Dalam pandangan Feud, semua perilaku manusia baik yang nampak (gerakan otot) maupun yang tersembunyi (pikiran) adalh disebabkan oleh peristiwa mental sebelumnya [3] terdapat peristiwa mental yang kita sadari dan tidak kita sadari namun bisa kita akses (preconscious) dan ada yang sulit kita bawa kealam tidak sadar (unconsciuos)[4] didalam alam tidak sadar inilah tinggal dua struktur mental yang ibaat gunung es  dari kepribadian kita yaitu
a.       Id adalah berisi energi psikis yang hanya memikirkan kesenangannya semata yang berpusat pada losting
b.      Super ego adalh berisi kaidah moral dan nilai-nilai sosial yang di resap individu dari lingkungan
c.       Ego adalah pengawas realitas atau modiator antara hasrat-hasrat hewani dan tuntutan rasional realistik kalau Ego gagal menjaga keseimbangan antara dorongan dari Id dan larangan-larangan dari Super Ego, maka individu yang bersangkutan akanmenderita konflik batin yang terus menerus. dan konflik ini akan menjadi dasar dari reurose.
  1. Aliran Psikologi Gestalt (Gestalt Psychology)
Gestalt berasal dari bahasa Jerman, yang dalam bahasa Inggrisnya berarti form, shape, configuration, whole yang berarti “bentuk” atau “konfigurasi”, “hal”, “peristiwa”, “pola”, “totalitas” atau “bentuk kseluruhan”.
Eksperimen Gestalt pertama adalah mempelajari gerakan terutama fenomena phi, ketika dua cahaya yang berbeda disinarkan berurut-urut (ditetapkan waktu dan tempat jarak yang tepat) subjek akan melihat sinar tunggal yang bergerak dari posisi sinar pertama ke sinar yang kedua. Menurut pakar psikologi Gestalt, pengalaman kita bergantung pada pola yang dibentuk stimulus dan pada organisasi pengalaman.
Walalupun para psikolog Gestalt sama sekali tidak menganut psikologi intropeksi seperti halnya Watson, tetapi mereka merypakan penetang kuat intropeksi bebas yang dikenal dengan fenomenologi. Psikologi Gestalt memperhatikan gerakan yang dapat diamati dalam ukuran yang dapat dinilai dalam penampakan warna di bawah penerangan yang berbeda-beda. Bagi aliran Gestalt yang utama bukanlah elemen, tetapi keseluruhan gejala jiwa harus dipelajari sebagai suatu keseluruhan atau totalitas. Keseluruhan dalam memandang aliran Gestalt lebih dari sekedar penjumlahan unsur-unsurnya. Keseluruhan itu lebih dahulu ditanggapi dari bagian-bagiannya dan bagian itu harus memperoleh makna dalam keseluruhan. Arti atau makna Gestalt bergantung pada unsur-unsurnya dan sebaliknya arti unsur-unsur itu bergantung pula pada Gestalt. Sbenarnya teori mengenai Gestalt ini dikembangkan oleh psikologi sosialnya, sehingga melainkan berkembang dengan teori stimulus. Respons yang juga dipakai oleh ilmu komunikasi.
Menururt psikologi Getalt, mansia tidak memberikan respon pada stimulus secara otomatis. Manusia adalah organisasi aktif yang menafsirkan bahkan mendistoris lingkungan.
  1. Aliran Behaviorisme (Behavior)
Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam spikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus Frederic Skinner.
Behaviorisme merupakan aliran yang revolusioner kuat dan berpengaruh serta memiliki akan sejarah yang cukup dalam. Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap intropeksionisme (menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjek) dan juga menganalisis perilaku yang tampak saja yang dapay diukur, dilukiskan dan diramalakan. Behariorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan.
Kaum behaviorisme, khususnya Watson tidak menyetujui intropeksi digunakan dalam penelitian-penelitian psikologis dengan alasan-alasan berikut:
a.       Intropeksi digunakan sebagai metode yang tidak dapat dipakai oleh behaviorisme yang banyak melakukan penyelidikan terhadap hewan
b.      Watson meragukan ketelitian dan kebenaran metode intropeksi dalam penyelidikan-penyelidikan psikologi
c.       Intropeksi menggambarkan berlangsungnya berbagaihal dalam organisme yang tidak dapat dilihat dan diukur secara objektif.
Behaviorisme memandang bahwa katika dilahirkan pada dasarnya manusia tidak membawa bakat apa-apa berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanyadari lingkungan sekitarnya. Padangan ini beranggapan bahwa apapun jadinya seseorang, satu satunya yang menentukan adalah lingkungannya. Skinner adalah tokoh aliran behaviorisme, berpendapat kepribadian terutama adalah hasil dari sejarah penguatan pribadi individu.
Skinner membuat tiga asumsi dasar:
a.       Perilaku itu terjadi menrurt hukum, mengakui perilaku manusia adalah oraganisme yang berpesan dan berpikir, Skinner tidak mencari penyebab perilaku dalam jiwa manusia dan menolak alasan-alasan penjelasan dengan mengendalikan keadaan pikiran.
b.      Skinner perilaku yang dapat dijelaskan berkenaan dengan kejadian atau situasi-situasi anteseden yang dapat diamati dalam psikologi Skinner tidak menggunakan penjelasan-penjelasan materialisme dan secara tegasmengabaikan untuk meneliti sebab-sebab perilaku yang dapat diamati.
c.       Skinner tidak menolak adanya peranan faktor-faktor bawaan dan turunan dalam perilaku dan menolak bahwa orang-orang adalah peirlaku yang menentukan nasibnya sendiri.
Pada aliran behavior ini, kritik umumnya diarahkan pada pengingkaran terhadap potensi alami yang dimulai manusia.
Perbedaan individu sebuah kenyataan yang diingkari oleh behaviorisme. Selain itu aliran ini mempunyai kecendrungan untuk mereduksi manusia. Menurut pandangan ini manusia tidka memiliki jiwa, kemauan, kebebasan untuk menentukan tingkah lakunya sendiri.
Manurut Watson, kepribadian manusia dapat dibentuk melalui pemberian rangsangan-rangsangan tertentu. Watson berpendapat juga bahwa hampir semua perilaku merupakan bahasa dari pengondisian dan lingkungan membentuk perilaku kita dengan memeprkuat kebiasaan tertentu.


[1] Sarwino sarl;ito wirawan. Pengantar umum psikologi. Jakarta: bulan bintang 1996
[2] Ibid halamsn 17
[3] http://gogos bangsa.word press com/2008/2009/17
[4] Ibid

Teknik dan komponen konfrensi kasus dan home visit.

Teknik dan komponen konfrensi kasus dan home visit.
            Dalam pelaksanaan konfrensi kasus ada beberapa teknik yakni tenik kelompok non formal. Teknik formal yakni bersifat tidak resmi artinya tidak menggunakan cara-cara tertentu yang bersifat intruksional atau tidak ada intruksi dari pemerintah atau siapapun. Dan pendekatan normatif harus memperhatikan beberapa hal:
a.       Penyebutan nama harus di sertai asas kerahasiaan (apabila bisa)
b.      Pengungkapan atau pembahasan harus didasarkan pada tujuan positif.
c.       Pembicaraan dalam suasana bebas dan terbuka
d.      Siap memberi masukan dan siap untuk menerima pendapat.
e.       Bahasa dan cara yang dipakai-cara yang dipakai sesuai peserta kasus bebas mengembangkan apa yang diketahui dipikirkan dirasakan dialami namun jangan sampai keluar kontek.
            Adapun tahap-tahap ini hal-hal yang dilakukan:
1.  Perencanaan, pada tahap ini hal-hal yang dilakukan:
a.       Menetapkan kasus-kasus yang akan dibawa ke konfrensi.
b.      Meyakinkan klien tentang pentingnya konfrensi kasus.
c.       Menetapkan konfrensi kasus.
d.      Meyiapkan bahan materi.
e.       Menetapkan waktu dan tempat.
f.       Menyiapkan fasilitas penyelenggaraan konfrensi kasus.
g.      Menyiapkan kelengkapan administrasi.

2.  Pelaksanaan, adapun hal-hal yang dilakukan antara lain:
a.       Mengomunikasikan rencana konfrensi kasus pada para peserta.
b.      Menyelenggarakan konfrensi kasus yang meliputi:
1.      Membuka pertemuan.
2.      Menyelenggarakan penstrukturan dengan asas kerahasiaan dengan pokok kasus.
3.      Meminta komitmen peserta untuk penanganan kasus.
4.      Membahas kasus.
5.      Meminta komitmen peserta untuk dalam penanganan kasus.
6.      Menyimpulkan hasil pembahasan dan menetapkan komitmen peserta.
7.      Menutup pertemuan.

3.  Evaluasi, adapun hal-hal yang dilakukan:
a.       Mengevaluasi kelengkapan dan kemanfaatan hasil konfrensi kasus serta komitmen para peserta dalam penanganan kasus.
b.      Mengevaluasi proses pelaksanaannya konfrensi kasus.

4.  Analisis hasil evaluasi tahap ini evaluasi yang dilakukan adalah analisis (pembahasan) efektivitas hasil konfrensi kasus terhadap penangana kasus.



5.  Tindak lanjut pada tahap ini hal-hal yang dilaksanakan adalah:
a.       Menggunakan hasil analisis untuk melengkapi data dan memperkuat komitmen penanganan kasus.
b.      Mempertimbangkan apakah diperlukan konfrensi kasus lanjutan.

6.  Laporan, pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah:
a.       Menyusun laporan kegiatan konfrensi kasus.
b.      Mengoptimalkan kepada pihak-pihak yang terkait dengan kasus yang dibahas.
c.       Mendokumentasikan laporan yang telah disusun.

            Ada 3 komponen utama dalam konfrensi kasus yitu kasus itu sendiri, peserta dan pembimbing atau konselor.
1.      Kasus –kasus yang dibahas dalam konfrensi dapat mencakup.
a.       Masalah klien yang sedang ditangani oleh konselor.
b.      Masalah yang dialami seseorang atau beberapa orang yang belum ditangani konselor.
c.       Kondisi lingkungan yang terindikasi atau berpotensi bermasalah.
d.      Laporan terjadi permaslahan tertentu.
e.       Isu yang patut ditanggapi dan memperoleh penanganan yang mendalam.
2.      Peserta
     Para peserta dalam konfrensi kasus pada dasarnya adalah semua pihak yang terkait dengan masalah yang dibahas, secara terperinci pihak yang terkait didalamnya adalah:
a.       Individu (seorang anak atau lebih) yang secara langsung mengalami permasalahan.
b.      Individu yang terindikasi mengalami masalah.
c.       Orang-orang yang berperan penting berkenaan dengan permasalahan yang dibahas.
d.      Orang yang dapat memberikan sumbangan demi tercapainya tujuan.
e.       Ahli yang berkenaan dengan permasalahan yang dibahas.
3.      Konselor
     Merupakan penyelenggara konfrensi kasus melalui perencanaan, pelaksanaan, penggunaan hasil, hingga pelaporan secara menyeluruh.
             Teknik kunjungan rumah, adapun hal-hal yang terkait didalamnya adalah: materi, format, peran klien, kegiatan, undangan terhadap keluarga, waktu dan tempat serta evaluasi.
1.      Format: kunjungan rumah dapat dilakukan mengikuti format lapangan dan politik.
2.      Materidalam merencanakan kunjungan rumah konse;or mempersiapkan berbagai informasi umum, dan juga informasi tentang klien yang layak diketahui oleh orang tua dan anggota keluarga.
3.        Peran klien (siswa). Keikutsertaan (peran siswa) dalam kunjungan rumah   diwujudkan melalui persetujuannya terhadap kunjungan rumah.
4.      Kegiatan beberapa yang dilakukan oleh konselor dalam melakukan kunjungan rumah adalah melakukan pembicaraan (wawancara) dengan anggota keluarga inti dan anggota keluarga lainnya sesuai dengan permaslahan.
5.      Undangan, apabila tidak memungkinkan untuk dilakukan kunjungan rumah dapat diganti dengan undangan terhadap keluarga.
6.      Waktu tempat, kapan maupun beberapa kunjungan rumah dilakuakn tergantung pada pertimbangan proses pelayanan terhadap siswa.
7.      Evaluasi yakni untuk mengetahui hasi-hasil dari kunjungan rumah, baik dari pelaksanaannya. Prosesnya dan hasil-hasilnya sejak dari perencanaan hingga akhir kegiatan.
            Adapun tahap-tahap pelaksanaannya kunjungan rumah yaitu perencanaan, pelakasanaan, evaluasi, analisis hasil evaluasi, tindak lanjut dan laporan:
1.      Perencanaan pada tahap ini hal-hal yang harus dilakukan:
a.     Menentukan kasus dan siswa yang memerlukan kunjungan rumah.
b.    Meyakinkan siswa tentang pentingnya kunjungan siswa.
c.    Menyiapkan data dan informasi pokok yang perludikomunikasikan dengan keluarga.
d.   Menetapkan materi kunjungan rumah atau data yang perlu diungkap dan peranan masing-masing anggota keluarga yang akan ditemui.
e.     Menyiapkan kelengkapan administrasi.

2.      Pelaksanaan adapun hal-hal yang dilakukan adalah:
a.       Menkomunikasikan rencana kegiatan kunjungan rumah kepada berbagai pihak yang terkait.
b.      Melakukan kunjungan rumah dengan melakukan:
1. Bertemu dengan oramg tua atau wali siswa atau anggota keluarga lainnya.
2. Membahas pembahasan siswa.
3. Melengkapi data.
4. Mengembangkan komitmen orang tua atau wali siswa atau anggota keluarga lainnya.
5. Menyelenggarakan konsleing keluarga apabila memungkinkan.
6. Merekam dan menyimpulkan hasil kegiatan.

3.      Evaluasi, tahap ini yang dilakukan adalah:
a.    Menevalusia proses pelaksanaan kunjungan rumah.
b.    Mengevaluasi proses pelaksanaan kunjungan rumah serta komitmen orang tua atau wali atau anggota kelauraga lainnya.
c.    Mengevaluasi penggunaan data hasil kunjungan rumah untuk mengentaskan maslah siswa.

4.      Analisa hasil evaluasi, pafa tahap ini yang dilakukan adalah melakukan analisis terhadap evekyifitas penggunaan hasil kunjungan rumah terhadap pemecahan kasus siswa.

5.      Tindak lanjut yang dilakukan pada tahap ini adalah:
a.       Mempertimbangan apakah perlu dilakukan kunjungan rumah ulang atau lanjutan.
b.      Mempertimbangan tindak lanjut layanan dengan menggunakan data hasil kunjungan rumah yang lebih lengkap dan akurat.

6.      Laporan, pada tahap ini pembimbing atau konselor melakukan kegiatan:
a.       Menyususn laporan kunjugna rumah.
b.      Menyiapkan laporan kunjungan rumah kepada berbagai pihak yang terkait.
c.       Mendokumentasikan laporan kunjungan rumah.

Adapun komponen dalam kunjungan rumah atu ada 3 yakni:
1.      Kasus kunjungan rumah difokuskan pada penanganan kasus yang dialami oleh klien yang terkait dengan faktor-faktor keluarga, kasus terlebih dahulu dianalisi, difahami, disikapi dan diberikan (dilandaskan) dari awal, dan selanjutnya diberikan bimbingan konseling yang memadahi.
2.      Keluarga, keluarga adalah kunjungan rumah meliputi kondisi-kondisi yang menyangkut:
a.    Orang tua wali atau siswa.
b.    Kondisi fisik rumah, isinya dan lingkungannya.
c.    Kondisi ekonomi dan hubungan sosial emosional yang terjadi dalam keluarga
Kondisi diatas, dicermati dalam kaitannya dengan permasalahan siswa.
3.      Konselor atau Pembimbing, kondelor atau pembimbing bertindak sebagai perencana, pelaksana, dan sekaligus penggunaan hasil-hasil kunjungan rumah, seluruh kegiata kunjungan rumah dikaitkan langsung dengan pelayanan bimbingan dan konseling dan kegiatan pendukung layanan bimbingan dan konseling lainnya.
a)      Bilaman petugas bimbingan menganggap perlu atau sangat berguna untuk mengadakan kunjungan rumah, harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
mengadakan persipan mental sebelumnya, mengenai hah-hal yang ingin diperoleh informasi apa, sebagai pembuka dipersiapkan tema yang menyangkut hubungan antara keluarga dan pihak sekolah.
b)      Menghindari diberikan kesan seolah-olah diadakan pemeriksaan atau penggeledahan. Petugas bimbingan harus menunjukkan sikap yang ramah dan rendah hati, sehingga orang tua tidak segan untuk berbicara terbuka.
c)      Harus ada kepastian sebelum berkunjung,bahwa kedatangan petugas bimbingan akan disambut baik. Kepastian itu dapat diperoleh dengan menanyai siswa yang bersangkutan tentang rencana berkunjung kerumahnya, kalau siswa kurang setuju maka sebaiknya rencana itu dibatalkan.
Informasi yang dapat dikumpulkan biasanya mencakup hal-hal sebagai berikut:
1.      Letak dan keadaan didalam rumah: keadaan fisik daerah sekitar rumah, ukuran rumah perlengkapan dalam rumah, sumber penerangan dan sebagainya.
2.      Fasilitas belajar yang tersedia bagi siswa.
3.      Kebiasaan belajar siswa, belajar pad awaktu kapan, inisiatif sendiri atau harus dikejar, belajar bersama teman atau sendiri.
d)     Suasana keluarga, meliputi corak hubungan antara keluarga dan anak, sikap orang tua terhadap sekolah, teman-temannya dan lan-lain.
Sesudah kembali dari kunjungan rumah, petugas bimbingan menyusun laporan singkat tentang informasi yang diperoleh. Dengan membedakan antara fakta serta data dan kesan pribadi yang merupakan iterpretasi terhadap informasi. Bilamana dianggao sesuai dapat ditambahkan suatu rekomendasi tentang apa yang patut diusahakan disekolah terhadap siswa itu. Laporan itu disimpan sendiri dan tembusannya dilampirkan pada kartu pribadi siswa bersangkutan.