Tampilkan postingan dengan label psikologi pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Desember 2011

Teori –Teori Pokok Belajar

Teori pokok belajar dapat di pahami sebagai prinsip umum yang saling berhubungan dengan pristiwa belajar.tedapat beberapa macam teori yang   menonjol yaitu:
1) Teori Koneksionisme
Teori ini adalah teori yang di temukan dan dikembangka oleh edwr l. Thorndike berkesimpulan bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respon dan hal ini harus dibarengi dengan efek positif dan memuaskan yang akan menambah kuatnya hubungan stumulus dengan respon.
2) Teori Pembiasaan Klasik
Teori ini hasil dari experimen yang dilakukan oleh Ivan Pavlov seorang ilmuwan besar rusia, yang mengemukakan pada dasarnya clasical conditoning adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tesebut.
3) Pembiasaan Perilaku Respons
Teori ini mengemukakan bahwa tingkahlaku itu terbentuk konsekuensi konsekuensi yang dibentuk oleh tingkah laku itu sendiri.
4) Teori Pendekatan Kognitif
Teori psikologis kognitif adalah bagian terpenting dari sains kognitif yang telah memberi kontribusi yang sangat berarti pada perkembangan psikologi pendidikan.pendekatan teori psikologis kognitif lebih menekankan arti penting proses internal, mental manusia.dalam pandangan para ahli kognitif tingkah laku manusia yang tampak tak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, seperti motivasi, kesenjangan, keyakinan dan sebagainya.[1]


[1] Ibid., 105-111.

Prinsip-Prinsip Motivasi Belajar

Aktivitas belajar bukanlah suatu kegiatan yang dilakukan yang terlepas dari factor lain. Aktivitas belajar merupakan kegiatan yang melibatkan unsure jiwa dan raga. Belajar tak akan pernah dilakukan tanpa suatu dorongan yang kuat baik dari dalam yang lebih utama maupun dari luar sebagai upaya lain yang tak kalah pentingnya.
Faktor lain yang mempengaruhi aktivitas belajar seseorang itu dalam pembahasan ini disebut motivasi. Motivasi adalah gejala psikologis dalam bentuk dorongan yang timbul pada diri sesorang sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Motivasi bisa juga dalam bentuk usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
Motivasi mempunyai peranan yang strategis dalam aktivitas belajar seseorang. Tidak ada seorang pun yang belajar tanpa motivasi. Tidak ada motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar. Agar peranan motivasi lebih optimal, maka prinsip-prinsip motivasi dalam belajar tidak hanya diketahui, tetapi juga harus diterangkan dalam aktivitas belajar mengajar. Ada beberapa prinsip motivasi dalam belajar seperti dalam uraian berikut.
1.      Motivasi Sebagai Dasar Penggerak Yang Mendorong Aktivitas Belajar
Seseorang melakukan aktivitas belajar karena ada yang mendorongnya motivasilah sebagai dasar penggeraknya yang mendorong sseorang untuk belajar. Seseorang yang berminat untuk belajar belum sampai pada tataran motivasi belum menunjukkan aktivitas nyata. Minat merupakan kecenderungan psikologis yang menyenangi sesuatu objek, belum sampai melakukan kegiatan. Namun, minat adalah motivasi dalam belajar. Minat merupakan potensi psikologi yang dapat dimanfaatkan untuk menggali motivasi. Bila seseorang sudah termotivasi untuk belajar maka dia melakukan aktivitas belajar dalam rentangan waktu tertentu. Oleh karena itulah, motivasi diakui sebagi dasar penggerak yang mendorong aktivitas belsajar seseorang.
2.      Motivasi Intrinsic Lebih Utama Daripada Motivasi Ekstrinsik Dalam Belajar
Dari seluruh kebijakan pengajaran, guru lebih banyak memutuskan memberikan motivasi ekstrinsik kepada setiap anak didik. Tidak pernah ditemukan guru yang tidak memakai motivasi ekstrinsik dalam pengajaran. Anak didik yang malas belajar sangat berpotensi untuk diberikan motivasi ekstrinsik oleh guru supaya dia rajin belajar.
Efek yang tidak diharapkan dari pemberian motivasi ekstrinsik adalah kecendrungan ketergantungan anak didik terhadap segala sesuatu di luar dirinya. Selain kurang percaya diri, anak juga bermental pengharapan dan mudah terpengaruh. Oleh karena itu, motivasi intrinsik lebih utama dalam belajar.
Anak didik yang belajar berdasarkan motivasi intrinsik sangat sedikit terpengaruh dari luar. Semangat belajarnya sangat kuat. Dia belajar bukan karena ingin mendapatkan nilai yang tinggi, mengharapkan pujian orang lain atau mengharapkan hadiah berupa benda, tetapi karena ingin memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya. Tanpa diberikan janji-janji yang muluk-muluk pun anak didik rajin belajar sendiri. Perintah tidak diperlukan, karena tanpa diperintah anak sudah taat pada jadwal belajar yang dibuatnya sendiri.
3.      Motivasi Berupa Pujian Lebiah Baik Daripada Hukuman
Meski hukuman tetap diberlakukan dalam memicu semangat belajar anak didik, tetapi masih lebih baik penghargaan berupa pujian. Setiap orang senang dihargai dan tidak suka dihukum dalam bentuk apapun jaga. Memuji orang lain berarti memberikan penghargaan atas prestasi kerja orang lain. Hal ini memberikan semangat kepada seseorang untuk lebih meningkatkan prestasi kerjanya. Tetapi pujian yang diucap itu tidak asal ucap, harus pada tempat dan kondisi yang tepat. Kesalahan pujian bisa bermakna mengejek.
4.      Motivasi Berhubungan Erat Dengan Kebutuhan Dalam Belajar
Kebutuhan yang tak bisa dihindari oleh anak didik adalah keinginan untuk menguasai sejumlah ilmu pengetahuan. Oleh karena itulah anak didik belajar. Karena bila tidak belajar berarti anak didik tidak akan mendapat ilmu pengetahuan. Bagaimana untuk mengembangkan diri dengan memanfaatkan potensi-potensi yang dimiliki bila potensi-potensi tidak ditumbuh kembangkan melalui penguasaan ilmu pengetahuan. Jadi, belajar adalah santapan utama anak didik.
5.      Motivasi Dapat Memupuk Optimisme Dalam Belajar
Anak didik yang mempunyai motivasi dalam belajar selalu yakin dapat menyelesaikan setiap pekerjaan yang dilakukan. Dia yakin bahwa belajar bukanlah kegiatan yang sia-sia. Hasilnya pasti akan berguna tidak hanya kini, tetapi dihari-hari mendatang. Setiap ulangan yang diberikan oleh guru bukan dihadapi dengan pesimisme, hati yang resah gelisah. Tetapi dia hadapi dengan tenang dan percaya diri. Biarpun ada anak didik yang lain membuka catatan ketika ulangan, dia tidak terpengaruh dan tetap tenang menjawab setiap soal item soal dari awal hingga akhir waktu yang ditentukan.
6.      Motivasi Melahirkan Prestasi Dalam Belajar
Dari berbagai hasil penelitian selalu menyimpulkan bahwa motivasi mempengaruhi prestasi belajar. Tinggi rendahnya motivasi selalu dijadikan indikator baik buruknya prestasi belajar seseorang anak didik. Anak didik menyenangi mata pelajaran tertentu dengan senang hati mempelajari mata pelajaran itu. Selain memiliki bukunya, ringkasannya juga rapi dan lengkap. Setiap ada kesempatan selalu mata pelajaran yang disenangi itu yang dibaca. Wajarlah bila isi mata pelajaran itu dikuasai dalam waktu yang relatif singkat.

Jumat, 04 November 2011

Prinsip-prinsip pembelajaran active learning

Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip pendekatan belajar aktif adalah tingkah laku yang mendasar bagi siswa yang selalu nampak dan menggambarkan keterlibatannya dalam proses belajar mengajar baik keterlibatan mental, intelektual maupun emosional yang dalam banyak hal dapat diisyaratkan sebagai keterlibatan langsung dalam berbagai bentuk keaktifan fisik.
Sedangkan dalam penerapan belajar aktif, seorang guru harus mampu membuat pelajaran yang diajarkan itu menantang dan merangsang daya cipta siswa untuk menemukan serta mengesankan bagi siswa. Untuk itu seorang guru harus memperhatikan beberapa prinsip dalam menerapkan belajar aktif.
Adapun prinsip-prinsip dari pembelajaran aktif adalah:
  1. Prinsip Motivasi
Motif adalah “daya dalam pribadi seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu.”1 Kalau seorang siswa rajin belajar, guru hendaknya menyelidiki apa kiranya motif yang mendorongnya. Kalau seorang siswa malas belajar, guru hendaknya menyelidiki mengapa ia berbuat demikian.
Guru hendaknya berperan sebagai pendorong, motivator, agar motif-motif yang positif dibangkitkan dan atau ditingkatkan dalam diri siswa. Ada dua jenis motivasi, yaitu motivasi dari dalam diri anak (intrinsik) dan motivasi dari luar diri anak (ekstrinsik). Motivasi dalam diri dapat dilakukan dengan menggairahkan perasaan ingin tahu anak, keinginan untuk mencoba, dan hasrat untuk maju dalam belajar. Motivasi dari luar dapat dilakukan dengan memberikan ganjaran, misalnya melalui pujian, hukuman, misalnya dengan penugasan untuk memperbaiki pekerjaan rumahnya.

  1. Prinsip Latar atau Konteks
Para guru perlu menyelidiki tentang latar belakang siswa, baik pengetahuan, ketrampilan, sikap dan pengalaman. Perolehan ini perlu dihubungkan dengan bahan pelajaran baru yang hendak diajarkan guru kepada siswa, atau yang dipelajari siswa agar pelajaran dapat dicerna dengan mudah oleh siswa.2

Dalam belajar para siswa mempelajari sesuatu hal yang baru dan mengetahui hal-hal lain yang secara langsung atau tak langsung berkaitan. Karena itu, para guru perlu meyelidiki apa kira-kira pengetahuan, perasaan, ketrampilan, sikap, dan pengalaman yang telah dimiliki para siswa.
  1. Prinsip Keterarahan kepada Titik Pusat atau Fokus Tertentu.
Agar perhatian murid tidak terpecah dalam materi pelajaran, guru perlu membuat suatu bentuk atau pola pelajaran. Pelajaran yang direncanakan dalam suatu bentuk atau pola tertentu akan mampu mengaitkan bagian-bagian yang terpisah dalam suatu pelajaran.3

Tanpa suatu pola, pelajaran dapat terpecah-pecah, dan para siswa akan sulit memusatkan perhatian. Titik pusat itu dapat tercipta melalui upaya merumuskan masalah yang hendak dipecahkan, merumuskan pertanyaan yang hendak dijawab, atau merumuskan konsep yang hendak ditemukan.
  1. Prinsip Hubungan Sosial atau Sosialisasi
Dalam belajar para siswa perlu dilatih untuk bekerja sama dengan rekan-rekan sebayanya. Ada kegiatan belajar tertentu yang akan lebih berhasil jika dikerjakan secara bersama-sama daripada dikerjakan secara individual.4 Mereka dapat dibagi kedalam kelompok dan kepada setiap kelompok diberikan tugas yang berbeda-beda. Latihan bekerja sama sangatlah penting dalam proses pembentukan kepribadian anak.
  1. Prinsip Belajar Sambil Bekerja
Anak-anak pada hakikatnya belajar sambil bekerja atau melakukan aktivitas. Bekerja adalah tuntutan pernyataan dari anak. Karena itu, anak-anak perlu diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan nyata yang melibatkan otot dan pikirannya. Semakin anak bertumbuh semakin berkurang kadar bekerja dan semakin bertambah kadar berpikir.5
Apa yang diperoleh anak melalui kegiatan bekerja, mencari, dan menemukan sendiri tak akan mudah dilupakan. Hal itu akan tertanam dalam hati sanubari dan pikiran anak. Para siswa akan bergembira kalau mereka diberi kesempatan untuk menyalurkan kemampuan bekerjanya.
  1. Prinsip Perbedaan Perorangan atau Individualisasi
Masing-masing individu mempunyai kecenderungan yang berbeda. Misalnya dalam kadar kepintaran, kegemaran, latar belakang keluarga, sifat dan kebiasaan. Untuk itu para guru diharapkan tidak memperlakukan sama siswa-siswanya, agar kecepatan dan keberhasilan belajar anak dapatlah ditumbuh kembangkan seoptimal mungkin.6

Jika perbedaan individu siswa dipelajari dan dimanfaatkan dengan tepat, maka kecepatan dan keberhasilan belajar anak dapat ditumbuhkembangkan.
  1. Prinsip Menemukan
Seorang guru hendaknya dapat memberikan kesempatan kepada semua siswanya untuk mencari dan menemukan sendiri beberapa informasi yang telah dimiliki.7 Informasi guru tersebut hendaknya dibatasi pada informasi yang benar-benar mendasar dan ‘memancing’ siswa untuk ‘mengail’ informasi selanjutnya.
Jika para siswa ini diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri informasi itu, maka mereka akan merasakan getaran pikiran, perasaan dan hati. Getaran-getaran dalam diri siswa ini akan membuat kegiatan belajar tidak membosankan, malah menggairahkan.
  1. Prinsip Pemecahan Masalah
Seluruh kegiatan siswa akan terarah jika didorong untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Guna mencapai tujuan-tujuan, para siswa dihadapkan dengan situasi bermasalah agar mereka peka terhadap masalah.8
Kepekaan terhadap masalah dapat ditimbulkan jika para siswa dihadapkan kepada situasi yang memerlukan pemecahan. Para guru hendaknya mendorong para siswa untuk melihat masalah, merumuskannya, dan berdaya upaya untuk memecahkannya sejauh taraf kemampuan para siswa.
1 Conny Semiawan, Pendekatan Ketrampilan Proses.( Jakarta: Gramedia, 1992).10.
2 Zuhairini, Metodologi,. 116.
3 Semiawan, Pendekatan,. 10.
4 Zuhairini, Metodologi,. 117.
5 Semiawan, Pendekatan,. 11.
6 Zuhairini, Metodologi,. 117.
7 Ibid,.
8 Semiawan, Pendekatan,. 13.

Minggu, 14 Agustus 2011

“READINESS” DALAM HAL BELAJAR


“READINESS” DALAM HAL BELAJAR
1. Penertian dan Prinsip-Prinsip pembentikan Rediness
      Ada orang yang mengatikan readiness sebagai kesipan atau kesediaan seseorang untuk berbuat sesuatu. Seseorang ahli bernama Cronbach memberikan pengertian rediness sebagaii segenap sifat atau kekkuatan yang membuat seseorang dapat bereaksi dengan cara tertentu.
      Rediness dalam belajar melibatkan beberapa faktor yang bersama-sama membentuk rediness, yaitu:
1)                                                                     Perlengkapan dan pertumbuhan fisiologi yang menyangkut kelengkapan pribadi seperti: tubuh pada umumnya, alat-alat indra dan kapasitas intelektual.
2)                                                                     Motivasi yang menyangkut kebutuhan pribadi, minat dan tujuan individu untuk mempertahankan serta mengembangkan diri.
      Dengan demikian, Rediness sseorang itu senantiasa mengalami perubahansetip hari sebagai akibat dari pertumbuhan dan perkembangan fisiologis dari individuserta adanya desakan-desakandari lingkungan seseorang.
Adapun prinsip-prinsip bagi perkembangan rediness adalah sebagai berikut:
1)                                                              Semua aspek pertumbuhan berinteraksi dan bersama membentuk rediness.
2)                                                              Pengalaman seseorang mempengaruhi pertumbuhan fisiologis individu.
3)                                                              Pengalaman mempunyai efek kumulatif dalam perkembangan ungsi-fungsi kepribadian individu, baik yang jasmani maupun yang rohani.
4)                                                              Apabila rediness untuk melaksanakan kegiatan tertentu terbentuk pada diri seseorang, maka saat-saat tertentu dalam kehidupan seseorang merupakan masa formatif bagi perkembanganpribadinya.
2. Kematangan Sebagai Dasar dari Pembentukan Rediness
      Pengaruh kondisi jasmaniah terhadap pola tingkah laku atau pengakuan sosial sangat tergantung pada:
1)                                                                  Pengakuan individu yang bersangkutan terhadap diri sendiri (self concept)
2)                                                                  Pengakuan dari orang lain atau klompoknya. Masing-masing individu mempunyai sikap tersendiri terhadap keadaan fisiknya.
      Perubahan jasmai merupakan bantuan “motor learning”agar pertumbuhan itu mencapai kematangan. Kematangan ataupun kondisi fisik baru akan memperoleh kematangan sosia, individu yang bersangkutan mengusahakan “social learning” (belajar berinteraksi dengan orang lain atau kelompok serta menyesuaikan diri dengannilai-nilai seerta minat-minat kelompok.
3. Ligkungan atau Kultur Sebagai Penyambung Pembentukan Rediness
      Anak mengalami pertumbuhan fisik mrupaka penyumbang terpenting bagi rediness, akan tetapi kita tidak boleh melupakan, bahwa tidak tumbuh dalam kevakuman. Perkembangan mereka tergantung pada penaruh lingkungan dan kultur disamping akibat tumbuhnya pada pola jasmaniah.
      Dalam perkembangan kehidupan induvidu, lingkungan yang dihadapi atau direaksi semakin luas. Meluasnya lingkungan dapat melalui beberapa cara, antara lain:
1)                                                              Perluasan paling nyata adalah dalam arah setimulasi fisik anak.
2)                                                              Manusia yang mengalami perkembangan kapasitas intelektualdan disamping itu pemikirannya meningkat, maka dalam hidupnya banyak terjadi perubahan lingkungan.
3)                                                              Akibat dari keadaan No. 2) diatas, terjadilah perubahan lingkungan didalam kemampuan individumembuat keputusan.

Teori-Teori Tentang Intelegensi


Teori-Teori Tentang Intelegensi
a)      Teori Uni-Factor
Dikemukakan oleh Wilhelm Stem pada tahun1911. Menutut teori ini, intelegensi merupakan kapasitas atau kemempuan umum, karena itu cara kerja intelegensi juga bersifat umum.

b)      Teori Two-Factor
Dikemukakan oleh Charles Sepearman pada tahun 1904. Ia mengembangkan tepri intelegensi berdasarkansuatu faktor mental umum yang diberi kode “g”serta faktor-faktor sepesifik yang diberi tanda “s”. Faktor “g” mewakili kekuatan mental umum yang berfungsi dalam setiap tingkah laku mental individu. Sedangkan faktor “s” menentukan tindakan-tindakan mental untuk mengatasi permasalahan.

c)      Teori Multi Factor
Dikembangkan oleh E. L. Throndike. Menurut teori ini, intelegensi terdiri dari bentuk hubungan-hubungan neural antara stimulus dan respon. Hubungan-hubugan inilah yang mengarahkan tingkah laku individu.
d)      Teori Sampling
Dikemukaka oleh G. H. Thomson pada tahun 1916. Menurut teori ini, intelegensi merupakan berbagai kemampuan sampel, karena dunia berisikan berbagai pengalaman yang terkuasai oleh pikiran manusia tetapi tidak semuanya. Masing-masing bidang hanya terkuasai sebagian-sebagian saja dan ini mencerminkankemampuan mental manusia.