Tampilkan postingan dengan label Sejarah pendidikan islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah pendidikan islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Juni 2011

LATAR BELAKANG KEMUNDURAN PENDIDIKAN ISLAM

NG MELATAR BELAKANGI KEMUNDURAN PENDIDIKAN ISLAM
Sepanjang sejarahnya sejak awal dalam pemikiran islam terlihat dua pola yang saling berlomba mengembangkan diri, dan mempunyai pengaruh besar dalam pengembangan pola pendidikan umat islam. Dari pola pemikiran yang bersifat tradisional, yang selalu mendasarkan diri pada wahyu, yang kemudian berkembang menjadi pola pemikiran sufistik dan mengembangkan pola pendidikan sufi pola pendidikan ini sangat memperhatikan aspek-aspek batiniah dan akhlak atau budi pekerti manusia sedangkan dari pola pemikiran yang rasional yang mementingkan akal pikiran, menimbulkan pola pendidikan empiris rasional. Pola pendidikan bentuk kedua ini sangat memperhatikan pendidikan intelektual dan penguasaan material.
            Pada masa jayanya pendidikan islam kedua pola pendidikan tersebut menghiasi dunia islam, sebagai dua pola yang berpadu dan saling melengkapi. setelah pola pemikiran rasional diambil alih pengembangannya oleh dunia barat (eropa) dan dunia islampun tinggal pola pemikiran sufistik, yang sifatnya memang sangat memperhatikan kehidupan batin, sehingga mengabaikan perkembangan dunia material. Dari aspek inilah dikatakan pendidikan dan kebudayaan islam mengalami kemunduran, atau setidak-tidaknya dapat dikatakan pendidikan islam mengalami kemandegan.
            Selanjutnya diungkapkan oleh M.M. Sharif, dalam bukunya muslim thought, bahwa pikiran islam menurun setelah abad ke XIII M dan terus melemah sampai abad keXVIII M. Diantara sebab-sebab melemahnya pemikiran islam tersebut, antar lain dilukiskannya sebagai berikut:
1.      Telah berkelebihan filsafat islam (yang bercorak sufistik) yang dimasukkan al ghozali dalam alam islami di timur, dan berkelebihan pula ibnu rusyd dalam mmemasukkan islamnya (yang bercorak rasionalistis) kedunia islam dibarat al ghazali denga filsafat islamnya menuju kearah bidang rohaniyah hingga menghilang ia kedalam mega alam tasawuf, sedangkan ibnu rusyd dengan filsafatnya menuju kearah yang bertentanga dengan al ghazali. Maka ibnu rusyd dengan filsafatnya menuju kejurang materialisme. al gahzali mendapat sukses ditimur, hingga pendapat-pendapatny merupakan satu aliran yang terpenting. Ibnu rusyd mendapat sukses dibarat hingga pikiran-pikirannya menjadi pimpinan yang penting bagi alam pikiran barat.
2.      Umat islam, terutama para pemerintahannya (khalifah, sultan, amir--amir) melalaikan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, dan tidak memberi kesempatan untuk berkembang. Kalau pada mulannya para pejabat pemerintahan sangat memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan, dengan memberikan penghargaan  yang tinggi kepada para ahli ilmu pengetahuan, maka pada masa menurun melemahnya kehidupan umat islam ini, para ahli ilmu pengetahuan umumnya terlibat dalam urusan-urusan pemerintahan, sehingga melupakan pengembangan ilmu pengetahuan.
3.      Terjadi pemberonytakan-pemberontakan yang dibarengi dengan serangan dari luar, sehingga menimbiulaknm kehancuran kehancuran yang mengakibatkan berhentinya kegiatan pengembagan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di dunia islam. Sementara itu obor pikiran islam berpindah tangan ketangan kaum masehi, yang mereka ini telah mengikuti jjejak kaum muslimin yang menggunakan hasil buah pikiran yang mereka capai dari pikiran islam itu[1].


[1] M.M.Syarif,Muslim Thought  (Terj.Fuad M.Fachuddin) Diponegoro, Bandung, hal. 161-164.

Selasa, 04 Januari 2011

Lembaga-Lembaga Pendidikan Pasca Rosululloh

Lembaga-Lembaga Pendidikan Pasca Rosululloh
            Lembaga-lembaga pendidikan islam sebelum bangkitnya madrasah pada masa klasik, adalah[1]

1)      Suffah
            Suffah adalah suatu tempat yang di pakai untuk aktivitas pendidikan yang menyediakan pemondokan bagi mereka yang tergolong miskin. Mereka belajar membaca, menghafal Al-Qur’an, dan hukum islam. Seiring perkembangan berikutnya, sekolah Suffah juga menawarkan pelajaran dasar menghitung, kedokteran, astronomi, geneologi, dan ilmu filsafat.

2)      Kuttab
            Pada awalnya Kuttab hanya mengajarkan baca dan tulis Arab. Kemudian pada perkembangan selanjutnya, Kuttab juga mengajarkan dasar-dasar agama islam secara utuh.

3)      Halaqoh
            Halaqoh artinya lingkaran. Artinya proses belajar mengajar di sini dilaksanakan di mana mired melingkari gurunya. Kegiatan Halaqoh ini tidak khusus untuk mengajarkan atau mendiskusikan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan seperti filsafat.



4)      Majlis
            Istilah majlis telah dipakai dalam pendidikan sejak abad pertama islam, mulanya ia merujuk pada arti tempat-tempat perlaksanakan belajar mengajar. Pada perkembangan berikutnya di saat dunia pendidikan islam mengalami zaman keemasan, majlis berarti sesi di mana aktivitas pengajaran atau berlangsung.
            Seiring dengan perkembangan pengetahuan dalam islam, majlis digunakan sebagai kegiatan transfer ilmu pengetahuan.

5)      Masjid
            Masjid telah menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kaum muslimin, baik yang menyangkut pendidikan maupun sosial ekonomi. Namun, yang lebih penting adalah sebagai lembaga pendidikan.
            Perkembangan masjid sangat signifikan dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat, terlebih lagi pada saat masyarakat islam mengalami kemajuan.

6)      Khan
            Khan biasanya difungsikan sebagai penyimpanan barang-barang dalam jumlah besar atau sebagai sarana komersial yang memiliki banyak toko, seperti, Khan Al Narsi yang berlokasi di alun-alun karkh di Baghdad.

7)      Ribarth
            Ribath adalah tempat kegiatan kaum sufi yang ingin menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dan mengonsentrasikan diri untuk semata-mata ibadah.

8)      Rumah-Ulama’
            Rumah sebenarnya bukan tempat yang nyaman untuk kegiatan belajar mengajar, namun para ulama di zaman klasik banyak yang mempergunakan rumahnya secara ikhlas untuk kegiatan belajar mengajar dan pengembangan ilmu pengetahuan.

9)      Toko-toko buku-Perpustakaan
            Toko-toko buku memiliki peranan penting dalam kegiatan keilmuan islam, pada awalnya memang hanya menjual buku-buku, tetapi berikutnya menjadi sarana untuk berdiskusi dan berdebat, bahkan pertemuan rutin sering dirancang dan dilaksanakan di situ.
            Di samping toko buku, perpustakaan juga memiliki peranan penting dalam kegiatan transfer keilmuan islam.

10)   Rumah sakit
            Rumah sakit pada zaman klasik bukan saja berfungsi sebagai tempat merawat dan mengobati orang-orang sakit, tetapi juga mendidik tenaga-tenaga yang berhubungan dengan perawatan dan pengobatan. Pada masa itu, percobaan dalam bidang kedokteran dan obat-obatan dilaksanakan sehingga ilmu kedokteran dan obat-obatan cukup pesat.
            Rumah sakit juga merupakan tempat praktikum sekolah kedokteran yang didirikan di luar rumah sakit, rumah sakit juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan.

11)   Badiah (padang pasir, dusun tempat tinggal badui)
            Badiah merupakan sumber bahasa Arab yang asli dan murni, dan mereka tetap mempertahankan keaslian dan kemurnian bahasa Arab. Oleh karena itu badiah-badiah menjadi pusat untuk pelajaran bahasa Arab yang asli dan murni. Sehingga banyak anak-anak khulifah, ulama-ulama dan para ahli ilmu pengetahuan pergi kebadiah-badiah dalam rangka mempelajari bahasa dan kesusastraan Arab. Dengan begitu badiah-badiah telah berfungsi sebagai lembaga pendidikan.


[1] . Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafika Persada, 2004), h. 32-42

Minggu, 19 Desember 2010

Pengertian Lingkungan Pendidikan Islam

Pengertian Lingkungan Pendidikan Islam
Salah satu sistem yang memungkinkan proses kependidikan islam berlangsung secara konsisten dan berkkesinambungan dalam rangka mencapai tujuanya adalah institusi atau kelembagaan pendidikan islam . Dari pernyataan ini dapat dipahami bahwa lingkungan pendidikan islam adalah suatu intitusi atau lembaga dimana pendidikan itu berlangsung. Dari berbagai sumber bacaan kependidikan, jarang dijumpai pendapat para ahli tentang pengertian lingkungan pendidikan. Kajian lingkungan pendidikan ini biasanya terintegrasi secara implisit dengan pembahasan mengenai macam-macam lingkungan pendidikan. Namun demikian, dapat dipahami bahwa Lingkungan pendidikan islam itu adalah suatu lingkungan yang didalamnya terdapat ciri-ciri keislaman yang memungkinkan perperselenggaraan pendidikan Islam dengan baik .
Dalam hal ini lingkungan tidak hanya bisa dimaknai secara sempit yaitu lembaga atau intitusi tetapi secara luas banyak sekali yang mempengaruhi proses pendidikan dalam lingkungan selain hal tersebut. Dengan ini kami membaginya menjadi tiga aspek yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat, ketiga hal tersebut merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam lingkungan pendidikan islam. Pengaruh apa yang diberikan dalam proses pendidikan, untuk itu hal ini akan di uraikan pada pembahasan berikut ini

Sabtu, 18 Desember 2010

Hakikat Evaluasi Pendidikan Islam

Hakikat Evaluasi Pendidikan Islam

Evaluasi pendidikan yaitu memuat cara-cara bagaimana mengadakan evaluasi/ penilaian terhadap hasil belajar anak didik. Tujuan pendidikan Islam umumnya tidak dapat dicapai sekaligus, melainkan melalui proses atau pentahapan tertentu. Oleh karena itu mencapai/ penilaian pada tahap atau fase dari pendidikan Islamtersebut. Apabila tujuan pada tahap atau fase ini telah tercapai kemudian dapat dilanjutkan, pelaksanaan pendidikan tahap berikutnya dan berakhir kepribadian muslim.[1]

Evaluasi dalam pendidikan Islam merupakan cara/ tekhnik penilaian terhadap tingkah laku anak didik berdasarkan standar perhitungan bersifat komperhensif dari seluruh aspek-aspek kehidupan mental psikologi dan spiritual religius.[2]

Secara sederhana evaluasi pendidikan Islam dapat diberi batasan sebagai suatu kegiatan untuk menentukan taraf kemajuan suatu pekerjaan dalam proses pendidikan Islam.[3]

Allah dengan firman-Nya dalam Al-qur’an memberitahukan kepada kita bahwa pekerjaan evaluasi terhadap anak didik merupakan suatu tugas penting dalam rangkaian tugas pendidikan yang telah dilaksanakan oleh pendidik. Sebagai contoh system evaluasi tuhan terhadap manusia yang menghadapi berbagai kesulitan hidup adalah sebagai berikut:[4]

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar






[3] Samsul Nizar, Filsafat pendidikan Islam (Jakarta: ciputat press, 2002)

Hakikat Metode Pendidikan Dalam Filsafat Pendidikan Islam

Hakikat Metode Pendidikan Dalam Filsafat Pendidikan Islam

metode pendidikan Islam Ialah cara yang paling tepat dilakukan oleh pendidik untuk menyampaikan bahan atau materi pendidikan Islam agar materi pendidikan Islam tersebut dapat dengan mudahditerima dan dimiliki oleh anak didik. Dalam pendidikan Islam metode pendidikan ini disebut dengan istilah Thariqatut Tarbiyah atau Tariqatut Tahdzib.[1]

Pendidikan Islam dalam pelaksanaanya membutuhkan metode yang tepat untuk menghantarkan kegiatan pendidikannya kea rah tujuan yang dicita-citakan. Bagaimana baik dan sempurnanya suatu kurikulum pendidikan Islam, ia tidak akan berarti apa-apa manakala tidak memiliki metode atau cara yang tepat dalam mentransformasikannya kepada peserta didik.

Metode mempunyai kedudukan yamg sangat penting dalam upaya mencapai tujuan, karena ia menjadi sarana yang membermaknakan materi pelajaran yang disusun dalam kurikulum pendidikan sedemikian rupa sehingga dapat dipahami atau diserap oleh anak didik menjadi pengertian-pengertian yang fungsional terhadap tingkah lakunya.

Tanpa metode, suatu materi pelajaran tidak akan dapat diproses secara efektif dan efisien dalam kegiatan belajar mengajar menuju tujuan pendidikan.[2]






[1] Nur Unbiyati, op.cit, 19

[2] hamdani, op.cit, 163

Hakikat kurikulum

Hakikat kurikulum
Kurikulum berasal dari bahasa latin “Curriculum”, semula berarti “a running course, specialy a chariot race course”dan terdapat pula dalam bahasa perancis “Courir” artinya “To run” artinya “berlari”. Istilah ini digunakanuntuk sejumlah “courses” atau mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mtncapai gelar atau ijazah. Secara tradisional kurikulum diartikan sebagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.[1]
Dalam kosakata Arab, Istilah kurikulum dikenal dengan kata “Manhaj” yang berarti “jalan yang terang”, yakni jalan yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupannya apabila pengertian ini dikaitkan dengan pendidikan, maka manhaj/ kurikulum berarti jalan terang yang dilalui pendidik atau guru latih dengan orang-orang yang di didik atau dilatihnya untuk mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap mereka.
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kurikulum itu adalah merupakan landasan yang digunakan pendidik untuk membimbing peserta didiknya ke arah tujuan pendidikan yang diinginkan melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, ketrampilan dan sikap mental.[2]

6. Hakikat Metode Pendidikan Dalam Filsafat Pendidikan Islam
metode pendidikan Islam Ialah cara yang paling tepat dilakukan oleh pendidik untuk menyampaikan bahan atau materi pendidikan Islam agar materi pendidikan Islam tersebut dapat dengan mudahditerima dan dimiliki oleh anak didik. Dalam pendidikan Islam metode pendidikan ini disebut dengan istilah Thariqatut Tarbiyah atau Tariqatut Tahdzib.[3]
Pendidikan Islam dalam pelaksanaanya membutuhkan metode yang tepat untuk menghantarkan kegiatan pendidikannya kea rah tujuan yang dicita-citakan. Bagaimana baik dan sempurnanya suatu kurikulum pendidikan Islam, ia tidak akan berarti apa-apa manakala tidak memiliki metode atau cara yang tepat dalam mentransformasikannya kepada peserta didik.
Metode mempunyai kedudukan yamg sangat penting dalam upaya mencapai tujuan, karena ia menjadi sarana yang membermaknakan materi pelajaran yang disusun dalam kurikulum pendidikan sedemikian rupa sehingga dapat dipahami atau diserap oleh anak didik menjadi pengertian-pengertian yang fungsional terhadap tingkah lakunya.
Tanpa metode, suatu materi pelajaran tidak akan dapat diproses secara efektif dan efisien dalam kegiatan belajar mengajar menuju tujuan pendidikan.[4]



[1] Arief armai, Pengantar iImu dan Metodologi Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Press, 2002) 29
[2] Samsul Nizar, Filsafat pendidikan Islam (Jakarta: ciputat press, 2002) 56
[3] Nur Unbiati, Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka setia, 1997)


Hakikat Peserta didik

Hakikat Peserta didik
Peserta didik yaitu pihak yang merupakan obyek terpenting dalam pendidikan. Hal ini disebabkan perbuatan atau tindakan pendidik itu diadakan atau dilakukan hanyalah untuk membawa anak didik ke arah tujuan pendidikan Islam yang kita cita-citakan. Dalam pendidikan Islam anak didik ini sering kali disebut dengan istilah yang bermacam-macam, antara lain: santri, thalib, muta’alim, muhadzab tilmidz.
Dalam paradigma pendidikan Islam peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi dasar yang masih perlu dikembangkan.
Mekakui paradigma di atas menjelaskan bahwa peserta didik merupakan Subjek dan Objek pendidikan yang memerlukan bimbingan orang lain (pendidik) untuk membantu mengarahkannya mengembangkan potensi yang dimiliki, serta membimbingnya menuju kedewasaan.
Beberapa hal yang perlu difahami dalam masalah anak didik adalah:
1. Anak didik bukan miniatur orang dewasa
2. Perkembangan anak didik mengiukuti periode tahap perkembangan tertentu.
3. Anak didik memiliki kebutuhan dan menuntut untuk memenuhi kebutuhannya itu semaksimal mungkin.
4. Anak didik memiliki perbedaan antara individu dengan individu lain.
5. Anak didik dipandang sebagai kesatuan system manusia.

Hakikat pendidik

Hakikat pendidik
Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan terhadap anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya mampu melaksanakan tugas sebagai makhluk Allah, khalifah di muka bumi, sebagai makhluk social dan sebagai individu yang mampu berdiri sendiri.
Sedangkan pendidik dalam perspektif pendidikan Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangn seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif, kognitif, maupun psikomotorik sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.
Islam mengajarkan bahwa pendidik pertama dan utama yang paling bertanggung jawab terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik adalah kedua orang tua. Islam memerintahkan kedua orang tua untuk mendidik diri dan keluarganya terutama anak-anaknya, agar mereka terhindar dari azab yang pedih. Firman Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ.
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan


sumber: 
- Abd. Aziz, Filsafat Pendidikan Islam (Surabaya :Elkaf, 2006)
- Samsul Nizar, Filsafat pendidikan Islam (Jakarta: ciputat press, 2002)

Hakikat Tujuan pendidikan Islam

Hakikat Tujuan pendidikan Islam
Tujuan adalah sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melakukan suatu kegiatan. Jika dalam hal ini tentang pendidikan Islam, maka dapt diartikan sasaran yang akan dicapai oleh seseorang/ kelompok yang melaksanakan pendidikan Islam.
Para ahli pendidikan (Muslim) mencoba merumuskan tujuan pendidikan Islam, diantaranya Al-Syaibani yang mengemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat sementara tujuan akhir yang dicapai adalah mengembangkan fitrah peserta didik baik ruh, fisik, kemauan dan akhlaknya yang dinamis, sehingga akan membentuk pribadi yang utuh dan mendukung bagi pelaksanaan fungsinya sebagai khalifah fil Ardl.
Secara praktis, Muhammad Athiyah al- Abrasyi menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam terdiri dari 5 sasaran, yaitu:
1. Membentuk Akhlak Mulia
2. Mempersiapkan kehidupan dunia dan Akhirat
3. Persiapan untuk mencari rizki dan memelihara segi kemanfaatannya.
4. Menumbuhkan semangat ilmiah dikalangan peserta didik
5. Mempersiapkan tenaga professional yang terampil.
Jadi pada hakikatnya tujuan pendidikan dalam Islam adalah mewujudkan perubahan menuju pada kebaikan, baik pada tingkah laku individu maupun dalam kehidupan masyarakat di lingkungan sekitarnya. 


sumber:
- Samsul Nizar, Filsafat pendidikan Islam (Jakarta: ciputat press, 2002)

Kamis, 16 Desember 2010

MASA PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM

MASA PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM
Setelah warisan filsafat dan ilmu pengetahuan islam diterima oleh bangsa eropa dan umat islam sudah tidak memperhatikannya lagi maka secara berangsur-angsur telah membangkitkan kekuatan dieropa dan menimbulkan kelemahan dikalangan umat islam. Secara berangsur-angsur tapi pasti kekuatan umat islam ditundukkan oleh kekuatan eropa.
Sebenarnya kesadaran akan kelemahan dan ketertinggalan kaum muslimin dari bangsa-bangsa eropa dalam berbagai kehidupan ini, telah timbul mulai abad ke 11 H/17 M. Dengan kekalahan-kekalahan yang diderita oleh kerajaan turki usmani dalam peperangan dengan negara eropa, kekalahan tersebut mendorong raja-raja dan pemuka-pemuka kerajaan untuk menyelidiki sebab-sebab kekalahan mereka dan rahasia keunggulan lawan. Mereka mulai memperhatikan kemajuan yang dicapai oleh eropa, terutama perancis yang merupaka pusat kemajuan kebudayaan eropa pada masa itu. Kemudian dikirim duta-duta untuk mempelajari kemajuan eropa., terutama dibidang militer dan ilmu pengetahuan. Didatangkan pelatih pelati militer dari eropa dan didirikan sekolah tehnik militer pada tahun 1734 M untuk pertama kalinya.
Dalam bidang ilmu pengetahuan modern dalam islam, untuk pertama kalinya dibuka suatu percetakan di istambul pada tahun 1727 M, yang digunakan untuk mencetak buku-buku ilmu pengetahuan eropa yang telah diterjemahkan kedalam bahasa arab, selain untuk mencetak al qur’an dan buku pengetahuan lainnya, namun usaha ini mendapat tantangan dari pihak dari ulama dan golongan tentara dan pihak tentara yang telah ada sebelumnya , yang disebut pasukan yenisari, yang terlalu kuat sehingga usaha pemabahruan tersebut tidak berkembang.
Dan pendudukan Mesir oleh Napoleon Bonaparte tahun 1798 M, adalah tonggak sejarah bagi umat islam untuk mendapatkan kembali kesadaran akan kelemahan keterbelakangan mereka. Ekspedisi tersebut bukan hanya menunjukkan akan kelemahan umat islam, tetapi juga sekaligus menunjukkan kebodohan mereka, karena disamping membawa pasukan napoleon juga membawailmuan dengan seperangkat alat ilmiahnya untuk mengadakan penelitian di mesir. Inilah yang membuak mata kaum muslimin akan keterbelakangan dan kelemahan mereka, sehingga akhirnya timbul berbagai macam usaha pembaharuan dalam segala bidang kehidupan, untuk menegjar ketertinggalan dan keterbelakangan mereka, termasuk usaha-usaha di bidnag pendidikan.

LATAR BELAKANG KEMAJUAN PENDIDIKAN ISLAM

LATAR BELAKANG KEMAJUAN PENDIDIKAN ISLAM

Masa ini dimulai dengan berkembang pesatnya kebudayaan islam, yang di tandai dengan berkembang luasnya lembaga-lembaga pendidikan islam dan madrasah-madrasah (sekolah-sekolah) formal serta universitas-universitas dalam berbagai pusat kebudayaan islam. Lembaga-lembaga pendidikan, sekolah-sekolah dan universitas-universitas tersebut nampak sangat dominan pengaruhnya dam membentuk pola kehidupan dan pola budaya kaum muslimin. Berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang melalui lembaga pendidikan itu menghasilkan pembentukan dan pengembangan berbagai macam aspek budaya kaum muslimin.
Kalau masa sebelumnya, pendidikan hanya sebagai jawaban terhadap tantangan dari pola budaya yang telah berkembang dari bangsa-bangsa yang baru memeluk agama islamam,tetapi sekarang harus merupakan jawaban terhadap tantangan perkembangan dan kemajuan kebudayaan islam sendiri yang sangat pesat. Kebudayaan islam telah berkembang begitu cepatnya sehingga mengungguli dan bahkan menjadi puncak budaya umat manusia pada zaman itu. Kebudayaan islam pada zaman jahiliyah ini, bukan saja mendatangkan kesajahteraan bagi kaum muslimin saja, tetapi juga mendatangkan kesejahteraan bagi umta manusia umumnya, mendatangkan rahmatan lil’alamin.
Dalam perkembangan kebudayaan islam, nampak adanya dua faktor yang saling mempengaruhi, yaitu faktor intern atau pembawaan dari ajaran islam itu sendiri, dan faktor ekstern, yaitu berupa rangsangan dan tantangan dari luar.
1. Berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan islam
Lembaga-lembaga ini berkembang terus dan bahkan bersamaan dengannya tumbuh dan berkembang bentuk-bentuk lembaga pendidikan islam yang bercorak non formal tersebut adalah:
a. Kuttab sebagai lembaga pendidikan dasar
b. Pendidikan rendah di istana
c. Toko-toko kitab
d. Rumah-rumah para ulama (ahli ilmu pengetahuan)
e. Majlis atau saloon kesusasteraan
f. Badiah (padang pasir, dusun tempat tinggal Badwi)
g. Rumah sakit
h. Perpustakaan
i. Masjid
2. Sistem pendidikan di sekolah-sekolah
Di antara faktor-faktor yang menyebabkan berdirinya sekolah-sekolah di luar masjid adalh bahwa:
a. Khalaqah-khalaqah (lingkara) untuk mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan,yang di dalamnya juga terjadi diskusi dan perdebatan yang ramai, sering satu sama lain saling mengganggu, di samping sering pula mengganggu orang-orang yang beribadah dalm masjid.
b. Dengan berkembang luasnya ilmu pengetahuan, baik mengenai agama atau umum maka diperlukan semakin banyak khalaqah-khalaqah (lingkaran-lingkaran pengajaran), yang tidak mungkin keseluruan tertampung dalam ruang masjid.
Dengan berdirinya madrasah-madrasah tersebut, lengkaplah pendidikan islam yang bersifat formal, mulai dari tingkat dasar yaitu kuttab sampai tingkat menengah dan tingkat tinggi.
Mahmud Yunus, secara garis besar menggambarkan pokok-pokok rencana pelajaran pada berbagai tingkatan pendidikan tersebut sebagai berikut:
a. Rencana pelajaran kuttab (pendidikan dasar):
1.) Membaca Al-qur’an dan menghafalnya.
2.) Pokok-pokok ajaran agam islam, seperti cara berwudhu, shalat, puasa dan sebagainya.
3.) Menulis.
4.) Kisah atau riwayat orang-orang islam.
5.) Membaca dan menghafal sya’ir-sya’ir atau natsar (prosa).
6.) Berhitung.
7.) Pokok-pokok nahwu dan sharaf ala kadarnya.
b. Rencana pelajran tingkat menengah.
Pada umumnya rencana pelajaran tersebut meliputi mata pelajaran yang bersifat umum, sebagai berikut:
1.) Al-Qur’an
2.) Bahasa arab dan kesusasteraannya
3.) Fiqih
4.) Tafsir
5.) Hadits
6.) Nahwu/sharaf/balaghoh
7.) Ilmu-ilmu pasti
8.) Mantiq
9.) Ilmu falak
10.) Tarikh (sejarah)
11.) Ilmu-ilmu alam
12.) Kedokteran
13.) Musik
c. Rencana pelajaran pada pendidikan tinggi
Pada umumnya rencana pelajaran pada perguruan tinggi islam, dibagi menjadi dua jurusan, yaitu:
1.) Jurusan ilmu-ilmu agama dan bahasa serta sastera Arab, yang juga disebut sebagaim ilmu Naqliyah, yang meliputi :
a.) Tafsir Al-Qur’an
b.) Hadits
c.) Fiqih dan ushul fiqih
d.) Nahwu/sharaf
e.) Balaghah
f.) Bahasa arab dan kesusaateraannya
2.) Jurusan ilmu-ilmu umumyang disebut sebagai ilmu Aqliyah meliputi:
a.) Mantiq
b.) Ilmu-ilmmu alam dan kimia
c.) musik
d.) ilmmu-ilmu pasti
e.) ilmu ukur
f.) ilmu falak
g.) ilmu ilahiyah (ketuhanan)
h.) ilmu hewan
i.) ilmu tumbuh-tumbuhan
j.) kedokteran

LATAR BELAKANG KEMUNDURAN PENDIDIKAN ISLAM


LATAR BELAKANG KEMUNDURAN PENDIDIKAN ISLAM
Sepanjang sejarahnya sejak awal dalam pemikiran islam terlihat dua pola yang saling berlomba mengembangkan diri, dan mempunyai pengaruh besar dalam pengembangan pola pendidikan umat islam. Dari pola pemikiran yang bersifat tradisional, yang selalu mendasarkan diri pada wahyu, yang kemudian berkembang menjadi pola pemikiran sufistik dan mengembangkan pola pendidikan sufi pola pendidikan ini sangat memperhatikan aspek-aspek batiniah dan akhlak atau budi pekerti manusia sedangkan dari pola pemikiran yang rasional yang mementingkan akal pikiran, menimbulkan pola pendidikan empiris rasional. Pola pendidikan bentuk kedua ini sangat memperhatikan pendidikan intelektual dan penguasaan material.
            Pada masa jayanya pendidikan islam kedua pola pendidikan tersebut menghiasi dunia islam, sebagai dua pola yang berpadu dan saling melengkapi. setelah pola pemikiran rasional diambil alih pengembangannya oleh dunia barat (eropa) dan dunia islampun tinggal pola pemikiran sufistik, yang sifatnya memang sangat memperhatikan kehidupan batin, sehingga mengabaikan perkembangan dunia material. Dari aspek inilah dikatakan pendidikan dan kebudayaan islam mengalami kemunduran, atau setidak-tidaknya dapat dikatakan pendidikan islam mengalami kemandegan.
            Selanjutnya diungkapkan oleh M.M. Sharif, dalam bukunya muslim thought, bahwa pikiran islam menurun setelah abad ke XIII M dan terus melemah sampai abad keXVIII M. Diantara sebab-sebab melemahnya pemikiran islam tersebut, antar lain dilukiskannya sebagai berikut:
1.      Telah berkelebihan filsafat islam (yang bercorak sufistik) yang dimasukkan al ghozali dalam alam islami di timur, dan berkelebihan pula ibnu rusyd dalam mmemasukkan islamnya (yang bercorak rasionalistis) kedunia islam dibarat al ghazali denga filsafat islamnya menuju kearah bidang rohaniyah hingga menghilang ia kedalam mega alam tasawuf, sedangkan ibnu rusyd dengan filsafatnya menuju kearah yang bertentanga dengan al ghazali. Maka ibnu rusyd dengan filsafatnya menuju kejurang materialisme. al gahzali mendapat sukses ditimur, hingga pendapat-pendapatny merupakan satu aliran yang terpenting. Ibnu rusyd mendapat sukses dibarat hingga pikiran-pikirannya menjadi pimpinan yang penting bagi alam pikiran barat.
2.      Umat islam, terutama para pemerintahannya (khalifah, sultan, amir--amir) melalaikan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, dan tidak memberi kesempatan untuk berkembang. Kalau pada mulannya para pejabat pemerintahan sangat memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan, dengan memberikan penghargaan  yang tinggi kepada para ahli ilmu pengetahuan, maka pada masa menurun melemahnya kehidupan umat islam ini, para ahli ilmu pengetahuan umumnya terlibat dalam urusan-urusan pemerintahan, sehingga melupakan pengembangan ilmu pengetahuan.
3.      Terjadi pemberonytakan-pemberontakan yang dibarengi dengan serangan dari luar, sehingga menimbiulaknm kehancuran kehancuran yang mengakibatkan berhentinya kegiatan pengembagan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di dunia islam. Sementara itu obor pikiran islam berpindah tangan ketangan kaum masehi, yang mereka ini telah mengikuti jjejak kaum muslimin yang menggunakan hasil buah pikiran yang mereka capai dari pikiran islam itu[1].


[1] M.M.Syarif,Muslim Thought  (Terj.Fuad M.Fachuddin) Diponegoro, Bandung, hal. 161-164.

Minggu, 07 November 2010

Hakikat Pendidikan Islam


Hakikat Pendidikan Islam
Hakikat pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertakwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam ke  arah titik optimal,sehingga mampu menumbuhkan hubungan harmonis setiap pribadi dengan Alloh,manusia dan alam semesta.[1]Fitrah dalam al-Qur’an pada dasarnya memiliki arti potensi yaitu kesiapan manusia untuk menerima kondisi yang ada di sekelilingnya dan mampu menghadapi tantangan serta mempertahankan dirinya untuk “survive” dengan tetap berpedoman pada A-Qur’an dan sunah.[2]Dengan demikian,pendidikan Islam itu berupaya untuk mengembangkan individu sepenuhnya,maka sudah sewajarnyalah untuk memahami hakikat pendidikan Islam itu bertolak dari pemahaman terhadap konsep menurut Islam.
Al-Qur’an meletakkan kedudukan manusia sebagai khalifah Alloh di bumi (Al-Baqarah:30). Esensi makna khalifah adalah orang yang diberi amanah oleh Alloh untuk memimpin alam.Dalam hal ini manusia bertugas untuk memelihara dan memanfaatkan alam guna mendatangkan alam guna mendatangkan kemaslahatan bagi manusia.[3]
Agar manusia dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah secara maksimal,maka sudah semestinyalah manusia itu memiliki potensi yang menopangnya untuk terwujudnya jabatan khalifah tersebut.Potensi tersebut meliputi potensi jasmani dan rohani.
Potensi jasmani adalah: meliputi seluruh organ jasmaniah yang berwujud nyata.Sedangkan potensi rohaniah bersifat spiritual.Zakiah Dradjad mengemukakan bahwa potensi spiritual manusia meliputi dimensi akal, akhlak, perasaan (hati), keindahan, dan dimensi sosial. Dengan bermodalkan potensi-potensi yang dimilikinya itulah manusia merealisasikan fungsinya sebagai khalifah Alloh di bumi yang bertugas untuk memakmurkannya.
Di sisi lain, di samping manusia berfungsi sebagai khalifah,juga bertugas untuk mengabdi kepada Alloh (Az-Zariyat 56).Dengan demikian manusia itu mempunyai fungsi ganda,ssebagi khalifah sekaligus sebagi “abd.fungsi sebagai khalifah tertuju kepada pemegang amanah untk penguasaan ,pemanfaatan,pemeliharaan,dan pelestarian alam raya yang berujung kepada pemakmurannya.Fungsi ’abdtertuju kepada penghambaan diri semata-mata hanya kepada Alloh SWT.[4]
Untuk terciptanya kedua fungsi tersebut yang terintegrasi dalam diri pribadi muslim, maka diperlukan konsep pendidikan yang komprehensif yang dapat mengantarkan pribadi muslim kepada tujuan akhir pendidikan yang dicapai.Hal inilah yang disebut dengan pendidikan Islam.


[1] Arifin,Ilmu pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoretis dan Praktis Berdasarkan pendekatan Interdisipliner (Jakarta:Bumi Aksara,1996),32,Daulay,Haidar Putra.Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia (Jakarta:Kencana,2004),153
[2] Ishomudin.Spektrum Pendidikan Islam (Malang:UMM Press,1996),11-12
[3] Daulay,Haidar Putra.Pendidikan Islam Dalam …,153
[4] Ibid,154


COBA JUGA :
- sebelum membahas menganai hakikat pendidikan Islam sebagai disiplin Ilmu, terlebih dahulu kita bahas arti pendidikan dalam syarat-syarat suatu ilmu pengetahuan. Karena dari pembahasan ini akan muncul adanya benang merah antara pendidikan, maupun pendidikan Islam dengan ilmu pengetahuan. Menurut Dr. Sutari Barnadib ilmu pengetahuan adalah suatu uraian yang lengkap dan tersusun tentang suatu obyek.read more......

-Hakekat Pendidikan (Seharusnya) Membentuk Karakter !
Oleh : Yulianti*
“Hendaklah kalian khawatir akan meninggalkan anak keturunan yang lemah, yang hidup
sesudah kalian” (QS.An-Nisaa,4:9)
“Bersegeralah dalam mendidik anak sebelum read more..........(kamu butuh account lebih dulu)

- Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama sekali mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup  read more............