Tampilkan postingan dengan label sejarah islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Mei 2011

Latar Belakang Kemunculan Khawarij


       Latar Belakang Kemunculan Khawarij
Secara etimologis kata khawarij berasal dari bahasa Arab, yaitu kharaja yang bererti keluar, muncul, timbul, atau memberontak. Adapun yang dimaksud khawarij dalam terminology ilmu kalam adalah suatu sekte/kelompok aliran pengikut Ali bin Abi Thalib yang keluar meninggalkan barisan karena ketidak sepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim), dalam Perang Siffin pada tahun 37 H/ 648 M, dengan kelompok bughat (pemberontak) Muawiyah bin Abi Sofyan. Kelompok khawarij pada mulanya memandang Ali dan pasukannya berada dipihak yang benar, karena Ali merupakan khalifah sah yang telah dibaiat mayoritas umat Islam sementara muawiyah berada dipihak yang salah karena memberontak khalifah yang sah. lagi pula berdasarkan estinasai Khawarij, pihak Ali hampir memperoleh kemenangan pada peperangan itu, tetapi karena Ali menerima tipu daya licik ajakan damai Muawiyah, kemenangan yang hampir diraihnya itu raib.
Ali sebenarnya sudah mencium kelicikan dibalik ajakan damai kelompok Muawiyah sehingga ia bermaksud untuk menolak permintaan itu, terutama ahli qurra seperti Al-as’ats bin Qais, Mas’ud bin Fudaki At-tamimi, dan Zaid bin Husain Ath-Thai, dengan sangat terpaksa Ali memerintahkan Al-Asytar (komandan pasukannya) untuk menghentikan peperangan.
Setelah menerima ajakan damai, Ali bermaksud mengirimkan Abdullah bin Abbas sebagai delegasi juru damai (hakam)nya,tetapi orang-orang Khawarij menolaknya. Mereka beralasan bahwa Abdullah bin Abbas berasal dari kelompok Ali sendiri. Kemudian mereka mengusulkan agar Ali mengirim Abu Musa Al-Asy’ari dengan harapan dapat memutuskan perkara berdasarkan kitab Allah. Keputusan tahkim, yakni Ali diturunkan dari jabatannya sebagai khalifah oleh utusannya, dan mengangkat orang Khawarij. Mereka membelot dan mengatakan,”Mengapa kalian berhukum pada manusia.Tidak ada hukum selain hukum yang ada di sisi Allah.”  Imam Ali menjawab, ” itu adalah ungkapan yang benar, tetapi mereka artikan keliru.” Pada saat itu juga orang-orang khawarij keluar dari pasukan Ali dan langsung menuju Hurura. Kadang-kadang mereka disebut dengan syurah dan Al-mariqoh.
Penamaan kelompok yang dikenal radikal dan ekstrim baik dalam pemahaman maupun tindakan keagamaannya ini tampaknya dikaitkan dengan sejarah kemunculannya yang dipicu ketidaksepakatan mereka atas cara penyelesaian konflik melalui tahkim antara kubu Ali dan Muawiyah karena dinilai menyelisihi apa yang telah diperintahkan oleh Allah dalam al-Qur’an.
Bagi mereka, hukum haruslah dikembalikan kepada pesan al-Qur’an dan bukannya kepada akal manusia yang ikut berpartisipasi dalam diplomasi. Mereka meneriakkan slogan “tidak ada hukum kecuali hukum Allah” (la hukma illa lillah). Sikap politik ini lantas berkembang menjadi pengkafiran terhadap para sahabat yang menerima tahkim dan pengabsahan tindakan kekerasan bahkan pembunuhan terhadap mereka yang tidak sependapat.
Khawarij kemudian mengembangkan doktrin bahwa hak menjadi khalifah tidak hanya terbatas milik bangsa Arab atau keturunan suku Quraysh, tetapi dikembalikan kepada pilihan merdeka kaum muslimin. Pandangan ini tentu berbeda dengan pandangan kelompok Ahl al-Sunnah maupun pandangan kelompok Syiah. Mayoritas sekte dalam aliran Khawarij berpaham tentang wajibnya mengangkat imam, kecuali Najdat. Aliran ini berpendapat bahwa mengangkat imam tidak wajib, tetapi yang wajib adalah penegakan kebenaran dan keadilan yang menjamin setiap orang memperoleh apa yang menjadi haknya. Khawarij juga berkeyakinan bahwa perbuatan ibadah merupakan bagian daripada iman, sehingga siapapun yang mengabaikannya atau berbuat dosa besar (kabair) dengan sendirinya telah menjadi kafir. Bahkan mereka juga meyakini bahwa pemikiran atau pendapat yang salah adalah sebuah dosa yang menyebabkan kekafiran. Pandangan-pandangan ekstrim mereka itu sebagian besarnya didasarkan pada dalil-dalil yang dipahami secara tekstual, seperti dalil-dalil berikut ini:
ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا ومن كفر فإن الله غني عن العالمين ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون
سباب المسلم فسوق وقتاله كفر لا يزني حين يزني وهو مؤمن ولا يسرق السارق حين يسرق وهو مؤمن ولايشرب الخمر حين يشربها وهو مؤمن

Aliran Khawarij ini ada yang menamakannya dengan sebutan Haruriyah, yakni dinisbatkan kepada Harura, tempat mereka pertama kali melakukan konsolidasi dengan mengangkat Abdullah bin Wahhab al-Rasyidi sebagai imam. Tetapi para pengikut kelompok ini lebih suka menyebut diri mereka sebagai Shurah yang berakar dari kata yashri yang berarti menjual. Maksudnya bahwa mereka adalah kelompok yang berani menjual atau mengorbankan dirinya kepada Allah.
Dengan arahan Abdullah Al-Kiwa, mereka sampai di Harura. Di harura, kelomok Khawarij ini melanjutkan perlawanan pada Muawiyah dan juga pada Ali. Mereka mengangkat seorang pimpinan yang bernana Abdullah bin Shahab Ar-Rosyibi.

Senin, 31 Januari 2011

pidato agus salim dalam pembukaan jong islamic bond

kongres pertama JIB di yogyakarta bertepatan dengan hari natal 1926 Agus Salim berkata antara lain sebagai berikut
“apakah tidak ada hubungan antara dia dan pendirian Jong Islamieten Bond?”
Tidak ada pendirian JIB merupakan terlaksananya idaman hati yang memnyebabkan bahwa ia dan sewaktu dan sesudah pembentukan perserikatan tersebut memberikan bantuan dan dukungan seperti diharappkan dari dirinya. Hal ini dijalankan semata-semata Karena kewajiban orang islam yang sanggup ia berikan untuk seterusnya.”
“ketauhilah,”kata Agus Salim ,” masa muda saya sama dengan masa muda anda. Meskipun dilahirkan dari keluarga beragama dan dibesarkan dengan mendapatkan pendidkan agam dalam waktu singkat saya kehilangan kepercayaan hidup kepandaian sekolah menggantikan kepandaian hidup . penghidupan pelajar tanpa tanggung jawab sungguh-sungguh memudahkan pergantian itu . dan keadaan itu akan berlangsung dalam waktu singkat sesudah kita meninggalkan bangku sekolah.
“Anda sudah mempersatukan diri untuk mempelajari agama islam menurut keyakinan saya islam yamg tahan terhadap penyelidikan kritis perlu diselidiki secara sungguh-sungguh..”
“islam memberikan terang terhadap pengertian dunia, tentang penghidupan manusia pada umumnya, dan manusia sendiri ia memberikan sarana-sarananya yang mungkin bisa dicapai.”
Ada hal lain yang membuat saya bersyukur denga lahirnya Jong Islamitien Bond pendirin itu terlepas dari hasil-hasil yang menjadi harapan dapat menjadi bukti kemajuan kebebasan pendukungnnya.”
“akhirnya berdirilah suatu organisasi yang mencakup para pelajar dan golongan muda yang berorientasi pada jiwa dan kepribadian sendiri seperti yang dimiliki rakyat. Sebab kekuasaan barat dan pendidikan barat telah mempengaruhi kita , terutama kaum “intelektual” dalam usaha perlawanan dan usaha melepaaskan diri dari domminasi barat kita juga bergerak menurut garis orang barat dan dibawah pengaruh langsung –atau tidak langsung –orang barat sampai kini orang barat hampir memegang posisi pimpinan sedangkan bangsa sendriri berlaku sebagai “demonstrasi” dibawah rezim barat.
“Gamelan, wayang, tarian asli, pakaian adapt dan lainnya baru popular setelah “penghargaan” dan “kekaguman” serta propaganda orang-orang barat yang lebih terasa pengaruhnya adalah dibidang busana, ada suatu masa dimana orang-orang pribumi dilarang memakai pakaian barat , suatu masa dimana”pakaian jongos” seperti baju, pantolan, dan ikat kepaladipakai dikalangan priyayi dan kalangan terhormat. Pakaian –pakaian ini dipandang sebagai pakaian yang dianggap memiliki peradaban tinggi.
Waktu larangan pakaian Eropa tidak ketat lagi dengan cepat ikat kepala digantikan oleh topi vilt atau merang (stroo-en viltenoed) hingga tiba dimana orang-orang barat memuji “pakaian nasional” segera kita melihat kesibukan kearah sebaliknya sampai jas tutup yang tadinya
Dipuji karena praktis dikal;ahkan oleh baju sikep jawa asli . benar bahwa kain panjang serat iket dan sikep adalah pakaian nasional jawa, melainkan benar juiga bahwa sikap orang barat mengembalikan pakaian itu.
Kembali ketitik tolak saya bahwa dalam pergerakan kaum intelektual kita melihat bahwa sesungguhnya gerakan hidup jika mendapat simpati dan perhatian orang-orang barat , bahkan propaganda dan kerjasama orang-orang barat.
Hal ini menunjukkan tidak adanya kehormatan dalam diri kita sendiri dan kekalahan total sampai kejiwa kita sendiri, kurang hormat kepada diri sendiri memanga gejala umum dikalangan rakyat kita akibat tekanan dan penjajahan yang berlangsung selama berabad-abad bahkan lebih lama dengan penjajahan belanda, orang asing adalah “tuan” atau “mener” sementara bangsa kita sendiri tidak pernah kita sebut sebagai “tuan” atau “mener” ayah kita tidak pernah dipanggil “tuan” atau “mener” bertolak dari inilah Jong Islmiten Bond berdiri disini dengan sadar kita ingin menunjukkan pandangan sesuatu yang kita miliki, untuk dapat meningkatkan rakyat sendiri dihormati sendiri dan meningkatkan nilai tawar berhadapan dengan orang-orang asing – dimana pengaruh (orang) barat tidak mungkin terjadi , agama islam tidak dipandang sebagai pusaka yang menghalang-halangi kemajuan, tidak sebagai tempat pelarian karena takut ancaman hari kiamat, islam dijunjung sebagai panji yang kita banggakan karena sudah 13 abad ajaran-ajarannya tahan terhadap uian penilikan yang jujur dan menang dibandingkan agama apapun, tetapi juga tahan terhadap perlakuan ilmu pengetahuan barat.

Selasa, 04 Januari 2011

Lembaga-Lembaga Pendidikan Pasca Rosululloh

Lembaga-Lembaga Pendidikan Pasca Rosululloh
            Lembaga-lembaga pendidikan islam sebelum bangkitnya madrasah pada masa klasik, adalah[1]

1)      Suffah
            Suffah adalah suatu tempat yang di pakai untuk aktivitas pendidikan yang menyediakan pemondokan bagi mereka yang tergolong miskin. Mereka belajar membaca, menghafal Al-Qur’an, dan hukum islam. Seiring perkembangan berikutnya, sekolah Suffah juga menawarkan pelajaran dasar menghitung, kedokteran, astronomi, geneologi, dan ilmu filsafat.

2)      Kuttab
            Pada awalnya Kuttab hanya mengajarkan baca dan tulis Arab. Kemudian pada perkembangan selanjutnya, Kuttab juga mengajarkan dasar-dasar agama islam secara utuh.

3)      Halaqoh
            Halaqoh artinya lingkaran. Artinya proses belajar mengajar di sini dilaksanakan di mana mired melingkari gurunya. Kegiatan Halaqoh ini tidak khusus untuk mengajarkan atau mendiskusikan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan seperti filsafat.



4)      Majlis
            Istilah majlis telah dipakai dalam pendidikan sejak abad pertama islam, mulanya ia merujuk pada arti tempat-tempat perlaksanakan belajar mengajar. Pada perkembangan berikutnya di saat dunia pendidikan islam mengalami zaman keemasan, majlis berarti sesi di mana aktivitas pengajaran atau berlangsung.
            Seiring dengan perkembangan pengetahuan dalam islam, majlis digunakan sebagai kegiatan transfer ilmu pengetahuan.

5)      Masjid
            Masjid telah menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kaum muslimin, baik yang menyangkut pendidikan maupun sosial ekonomi. Namun, yang lebih penting adalah sebagai lembaga pendidikan.
            Perkembangan masjid sangat signifikan dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat, terlebih lagi pada saat masyarakat islam mengalami kemajuan.

6)      Khan
            Khan biasanya difungsikan sebagai penyimpanan barang-barang dalam jumlah besar atau sebagai sarana komersial yang memiliki banyak toko, seperti, Khan Al Narsi yang berlokasi di alun-alun karkh di Baghdad.

7)      Ribarth
            Ribath adalah tempat kegiatan kaum sufi yang ingin menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dan mengonsentrasikan diri untuk semata-mata ibadah.

8)      Rumah-Ulama’
            Rumah sebenarnya bukan tempat yang nyaman untuk kegiatan belajar mengajar, namun para ulama di zaman klasik banyak yang mempergunakan rumahnya secara ikhlas untuk kegiatan belajar mengajar dan pengembangan ilmu pengetahuan.

9)      Toko-toko buku-Perpustakaan
            Toko-toko buku memiliki peranan penting dalam kegiatan keilmuan islam, pada awalnya memang hanya menjual buku-buku, tetapi berikutnya menjadi sarana untuk berdiskusi dan berdebat, bahkan pertemuan rutin sering dirancang dan dilaksanakan di situ.
            Di samping toko buku, perpustakaan juga memiliki peranan penting dalam kegiatan transfer keilmuan islam.

10)   Rumah sakit
            Rumah sakit pada zaman klasik bukan saja berfungsi sebagai tempat merawat dan mengobati orang-orang sakit, tetapi juga mendidik tenaga-tenaga yang berhubungan dengan perawatan dan pengobatan. Pada masa itu, percobaan dalam bidang kedokteran dan obat-obatan dilaksanakan sehingga ilmu kedokteran dan obat-obatan cukup pesat.
            Rumah sakit juga merupakan tempat praktikum sekolah kedokteran yang didirikan di luar rumah sakit, rumah sakit juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan.

11)   Badiah (padang pasir, dusun tempat tinggal badui)
            Badiah merupakan sumber bahasa Arab yang asli dan murni, dan mereka tetap mempertahankan keaslian dan kemurnian bahasa Arab. Oleh karena itu badiah-badiah menjadi pusat untuk pelajaran bahasa Arab yang asli dan murni. Sehingga banyak anak-anak khulifah, ulama-ulama dan para ahli ilmu pengetahuan pergi kebadiah-badiah dalam rangka mempelajari bahasa dan kesusastraan Arab. Dengan begitu badiah-badiah telah berfungsi sebagai lembaga pendidikan.


[1] . Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafika Persada, 2004), h. 32-42

Kamis, 23 Desember 2010

AGAMA – AGAMA BANGSA ARAB SEBELUM ISLAM

AGAMA – AGAMA BANGSA ARAB SEBELUM ISLAM
Bangsa arab memeluk bermacam macam agama dan diantara yang terbesar dipeluk oleh penduduk Arab adalah paganisme yaitu penyembahan terhadap berhala. Menurut Syalabi bahwa munculnya penyembahan terhadap berhala itu di awali oleh penduduk arab yang pergi keluar mekkah selalu membawa batu yang diambil dari sekitar ka’bah. Batu itu akan disucikan atau digosok dan akhirnya mereka sembah dan dilakukan tawaf (berkeliling mangintarinya) sehingga mencapai 360 buah patung dengaN patung terbesar adalah Hubal yang diletakan didalam Ka’bah. Agama yang kedua dianut oleh bangsa arab adalah agama monotheisme, agama Hanif yang dibawa oleh Nabi Ibrahim namun penganut agamna ini sangatlah kecil bahkan ketika Islam datang. Agama yang ketiga yang dianut oleh bangsa Arab adalah agama Shabiah yaitu Penyembah binatang, seperti kabilah Himyar menyembah Matahari, kabilah Kinanah menyembah daboran (lima binatang disekitar Bulan), Kabilah Lakhm, Judzam menyembah Musytari, Kabilah Thai rnenyembah Suhaii. kabrlah Qais menyembah Abur dan Kabilah Asad menyembah Atharid. Selain itu mereka ada juga yang menyembah binatang mempercayai malaikat sebagai anak perempuan Turian dan menyembah Jin. Penduduk Yaman, Najran Hirah dan Ghassaniyah beragama Masehi. Sedang agama Yahudi dibawa oleh Imigran dan berkembang pesat di Yatsrib, Taima, Wadi al-qura. Dibagian timur jazirah arab yakni kawasan Oman, Bahrain, Yamamah tersebar agama Majusi (Zoroaster) karena berada dibawah pengaruh Per¬sia yang menganut agama Majusi.
Dan beberapa agama yang disebut, dapat dikatakan bahwa agama dengan penyembahan terhadap patung (Paganisme) merupakan agama yang dianut mayoritas bangsa Arab. Agama Masehi, Yahudi tidak mampu menggantikan kedudukan Paganisme dari masyarakat Arab. Dan inilah yang menjadi pusat perhatian Muhammad yang diutus untuk menghancurkan perilaku Jahiliyah karena kebodohan dalam hal agama yakni mempersukutukan tuhan mulalui penyembahan patung

ASAL-USUL BANGSA ARAB

ASAL-USUL BANGSA ARAB
Bangsa Arab termasuk ras atau rumpun bangsa Caucasoid dalam sub ras Mediteraniean yang anggotanya meliputi wilayah sekitar Laut Tengah, Afrika Utara, Armenia. Arabia dan irania. Bangsa Arab menurut silsilahnya berakhir pada Sam bin Nuh dimana darinya muncul bangsa Babilonia Khaldea. Asyuria, Ibrani, Phunisia, Aram dan Habsyi. Kecuali bangsa Arab bangsa ­bangsa keturunan Sam bin Nuh atau rumpun Semit ini sehagian besar sudah lenyap dan tidak dikenal lagi. Bangsa Arab terbagi atas dua kelompok yaitu Arah Baidah dan Baqiah. Arab Baidah adalah bangsa Arab yang sudah punah jauh sebelum Islam datang seperti kaum Ad, Tsamud, Jadis dan Thasm. Mereka tidak banyak diketahui riwayatnya kecuali dari kitab suci agama samawi atau diungkap oleh syair-syair Arab. Riwayat kaum Ad misalnya sebagaimana dikutip oleh Muhtar Yahya, pernah mendirikan sebuah kerajaan di Ahqof ( bagian selatan Jazirah Arab ) kira-kira tahun 2000 SM, semasa dengan kerajaan Khaldea (Babilonia Lama) di Mesopotamia Selatan. Kaum ini telah mencapai peradaban yang maju menurur ukuran zamannya dalam hal-hal pengolahan tanah, industri dan kerajinan. Begitu juga kaum Tsamud pernah mencapai kejayaan kira-kira pada tahun 1900 SM dengan mendirikan kerajaan di Wadi AI­ Qura (Hijaz utara) dengan menguasai wilayah dari Tabuk di utara sampai Al Ula di selatan. Merekapun telah mencapai peradaban yang maju dalam bertani, beternak, dan mernbuat kerajinan. Bahkan karena letaknya yang strategis diantara jalur perniagaan internasional saat itu (Barat, Mesir dan Persia), maka banyak diantara penduduknya menjadi saudagar ulung.

Arab Baqiah adalah bangsa Arab yang masih berkembang sampai saat ini. Bangsa Arab Baqiah terdiri dua kelompok yakni Arah `Aribah dan Arab Musta` ribah atau Muta'arribah, Arab 'Aribah disebut dengan Qohthaniyah yang bernenek moyang pada Qahthan, atau disebut juga dengan Yamaniyah karena bertempat tinggal di Yaman bagian selatan dari jazirah Arab. Sedang Arab Musta'ribah di sebut dengan Adnaniyyun, Nizariyyun atau Ma'adiyyun karena keturunan dari Adnan, Nizar atau Ma'ad yang mendiami wilayah utara jazirah Arab. Bangsa ini di sebut juga dengan Ismailiyah karena merupakan keturunan dari Ismail Ibn Ibrahim. 
Namun ada juga yang membagi bangsa Arab menjadi tiga kelompok yaitu pertama Arab Aribah, yang metiputi kaum Ad, Tsamud, Thasrn. Kedua Arab Muta'arribah; yaitu Qahthaniyyah dan ketiga Arab Musta'ribah; yaitu Arab Adnaniyah. Arab Qahtaniyyah menurunkan kabilah Jurhum dan Ya'rib. Dari `ya'rib menurunkan suku besar Kahlan dan Himyar. termasuk dalam suku Kahlan antara lain Thaii, Hamdan, Madzhij, Amilah, Judzam, Azed. Sedangkan yang termasuk suku Himyar antara lain, Qudla'ah, Tanukh, Kalb, Juhainah dan Udzrah. Arab Musta'ribah, Arab Adnaniyah akhirnya bercabang menjadi dua suku besar yaitu Kabiah dan Mudlar. Dari Kabiah muncul kabilah Asad yang menempati utara lembah Rimmah dan kabilah Wail yang bercabang menjadi suku Bakr dan Taghlab. Adapun dari Mudlor bercabang menjadi kabilah Qais Ailan yang menurunkan marga Hawazin dan Sulaiman; kabilah Tamim, kabilah Hudzail menempati pegunungan dekat Mekkah, dan kabilah Kinanah dimana suku Quraisy datang darinya.

Kamis, 16 Desember 2010

MASA PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM

MASA PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM
Setelah warisan filsafat dan ilmu pengetahuan islam diterima oleh bangsa eropa dan umat islam sudah tidak memperhatikannya lagi maka secara berangsur-angsur telah membangkitkan kekuatan dieropa dan menimbulkan kelemahan dikalangan umat islam. Secara berangsur-angsur tapi pasti kekuatan umat islam ditundukkan oleh kekuatan eropa.
Sebenarnya kesadaran akan kelemahan dan ketertinggalan kaum muslimin dari bangsa-bangsa eropa dalam berbagai kehidupan ini, telah timbul mulai abad ke 11 H/17 M. Dengan kekalahan-kekalahan yang diderita oleh kerajaan turki usmani dalam peperangan dengan negara eropa, kekalahan tersebut mendorong raja-raja dan pemuka-pemuka kerajaan untuk menyelidiki sebab-sebab kekalahan mereka dan rahasia keunggulan lawan. Mereka mulai memperhatikan kemajuan yang dicapai oleh eropa, terutama perancis yang merupaka pusat kemajuan kebudayaan eropa pada masa itu. Kemudian dikirim duta-duta untuk mempelajari kemajuan eropa., terutama dibidang militer dan ilmu pengetahuan. Didatangkan pelatih pelati militer dari eropa dan didirikan sekolah tehnik militer pada tahun 1734 M untuk pertama kalinya.
Dalam bidang ilmu pengetahuan modern dalam islam, untuk pertama kalinya dibuka suatu percetakan di istambul pada tahun 1727 M, yang digunakan untuk mencetak buku-buku ilmu pengetahuan eropa yang telah diterjemahkan kedalam bahasa arab, selain untuk mencetak al qur’an dan buku pengetahuan lainnya, namun usaha ini mendapat tantangan dari pihak dari ulama dan golongan tentara dan pihak tentara yang telah ada sebelumnya , yang disebut pasukan yenisari, yang terlalu kuat sehingga usaha pemabahruan tersebut tidak berkembang.
Dan pendudukan Mesir oleh Napoleon Bonaparte tahun 1798 M, adalah tonggak sejarah bagi umat islam untuk mendapatkan kembali kesadaran akan kelemahan keterbelakangan mereka. Ekspedisi tersebut bukan hanya menunjukkan akan kelemahan umat islam, tetapi juga sekaligus menunjukkan kebodohan mereka, karena disamping membawa pasukan napoleon juga membawailmuan dengan seperangkat alat ilmiahnya untuk mengadakan penelitian di mesir. Inilah yang membuak mata kaum muslimin akan keterbelakangan dan kelemahan mereka, sehingga akhirnya timbul berbagai macam usaha pembaharuan dalam segala bidang kehidupan, untuk menegjar ketertinggalan dan keterbelakangan mereka, termasuk usaha-usaha di bidnag pendidikan.

LATAR BELAKANG KEMAJUAN PENDIDIKAN ISLAM

LATAR BELAKANG KEMAJUAN PENDIDIKAN ISLAM

Masa ini dimulai dengan berkembang pesatnya kebudayaan islam, yang di tandai dengan berkembang luasnya lembaga-lembaga pendidikan islam dan madrasah-madrasah (sekolah-sekolah) formal serta universitas-universitas dalam berbagai pusat kebudayaan islam. Lembaga-lembaga pendidikan, sekolah-sekolah dan universitas-universitas tersebut nampak sangat dominan pengaruhnya dam membentuk pola kehidupan dan pola budaya kaum muslimin. Berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang melalui lembaga pendidikan itu menghasilkan pembentukan dan pengembangan berbagai macam aspek budaya kaum muslimin.
Kalau masa sebelumnya, pendidikan hanya sebagai jawaban terhadap tantangan dari pola budaya yang telah berkembang dari bangsa-bangsa yang baru memeluk agama islamam,tetapi sekarang harus merupakan jawaban terhadap tantangan perkembangan dan kemajuan kebudayaan islam sendiri yang sangat pesat. Kebudayaan islam telah berkembang begitu cepatnya sehingga mengungguli dan bahkan menjadi puncak budaya umat manusia pada zaman itu. Kebudayaan islam pada zaman jahiliyah ini, bukan saja mendatangkan kesajahteraan bagi kaum muslimin saja, tetapi juga mendatangkan kesejahteraan bagi umta manusia umumnya, mendatangkan rahmatan lil’alamin.
Dalam perkembangan kebudayaan islam, nampak adanya dua faktor yang saling mempengaruhi, yaitu faktor intern atau pembawaan dari ajaran islam itu sendiri, dan faktor ekstern, yaitu berupa rangsangan dan tantangan dari luar.
1. Berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan islam
Lembaga-lembaga ini berkembang terus dan bahkan bersamaan dengannya tumbuh dan berkembang bentuk-bentuk lembaga pendidikan islam yang bercorak non formal tersebut adalah:
a. Kuttab sebagai lembaga pendidikan dasar
b. Pendidikan rendah di istana
c. Toko-toko kitab
d. Rumah-rumah para ulama (ahli ilmu pengetahuan)
e. Majlis atau saloon kesusasteraan
f. Badiah (padang pasir, dusun tempat tinggal Badwi)
g. Rumah sakit
h. Perpustakaan
i. Masjid
2. Sistem pendidikan di sekolah-sekolah
Di antara faktor-faktor yang menyebabkan berdirinya sekolah-sekolah di luar masjid adalh bahwa:
a. Khalaqah-khalaqah (lingkara) untuk mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan,yang di dalamnya juga terjadi diskusi dan perdebatan yang ramai, sering satu sama lain saling mengganggu, di samping sering pula mengganggu orang-orang yang beribadah dalm masjid.
b. Dengan berkembang luasnya ilmu pengetahuan, baik mengenai agama atau umum maka diperlukan semakin banyak khalaqah-khalaqah (lingkaran-lingkaran pengajaran), yang tidak mungkin keseluruan tertampung dalam ruang masjid.
Dengan berdirinya madrasah-madrasah tersebut, lengkaplah pendidikan islam yang bersifat formal, mulai dari tingkat dasar yaitu kuttab sampai tingkat menengah dan tingkat tinggi.
Mahmud Yunus, secara garis besar menggambarkan pokok-pokok rencana pelajaran pada berbagai tingkatan pendidikan tersebut sebagai berikut:
a. Rencana pelajaran kuttab (pendidikan dasar):
1.) Membaca Al-qur’an dan menghafalnya.
2.) Pokok-pokok ajaran agam islam, seperti cara berwudhu, shalat, puasa dan sebagainya.
3.) Menulis.
4.) Kisah atau riwayat orang-orang islam.
5.) Membaca dan menghafal sya’ir-sya’ir atau natsar (prosa).
6.) Berhitung.
7.) Pokok-pokok nahwu dan sharaf ala kadarnya.
b. Rencana pelajran tingkat menengah.
Pada umumnya rencana pelajaran tersebut meliputi mata pelajaran yang bersifat umum, sebagai berikut:
1.) Al-Qur’an
2.) Bahasa arab dan kesusasteraannya
3.) Fiqih
4.) Tafsir
5.) Hadits
6.) Nahwu/sharaf/balaghoh
7.) Ilmu-ilmu pasti
8.) Mantiq
9.) Ilmu falak
10.) Tarikh (sejarah)
11.) Ilmu-ilmu alam
12.) Kedokteran
13.) Musik
c. Rencana pelajaran pada pendidikan tinggi
Pada umumnya rencana pelajaran pada perguruan tinggi islam, dibagi menjadi dua jurusan, yaitu:
1.) Jurusan ilmu-ilmu agama dan bahasa serta sastera Arab, yang juga disebut sebagaim ilmu Naqliyah, yang meliputi :
a.) Tafsir Al-Qur’an
b.) Hadits
c.) Fiqih dan ushul fiqih
d.) Nahwu/sharaf
e.) Balaghah
f.) Bahasa arab dan kesusaateraannya
2.) Jurusan ilmu-ilmu umumyang disebut sebagai ilmu Aqliyah meliputi:
a.) Mantiq
b.) Ilmu-ilmmu alam dan kimia
c.) musik
d.) ilmmu-ilmu pasti
e.) ilmu ukur
f.) ilmu falak
g.) ilmu ilahiyah (ketuhanan)
h.) ilmu hewan
i.) ilmu tumbuh-tumbuhan
j.) kedokteran

LATAR BELAKANG KEMUNDURAN PENDIDIKAN ISLAM


LATAR BELAKANG KEMUNDURAN PENDIDIKAN ISLAM
Sepanjang sejarahnya sejak awal dalam pemikiran islam terlihat dua pola yang saling berlomba mengembangkan diri, dan mempunyai pengaruh besar dalam pengembangan pola pendidikan umat islam. Dari pola pemikiran yang bersifat tradisional, yang selalu mendasarkan diri pada wahyu, yang kemudian berkembang menjadi pola pemikiran sufistik dan mengembangkan pola pendidikan sufi pola pendidikan ini sangat memperhatikan aspek-aspek batiniah dan akhlak atau budi pekerti manusia sedangkan dari pola pemikiran yang rasional yang mementingkan akal pikiran, menimbulkan pola pendidikan empiris rasional. Pola pendidikan bentuk kedua ini sangat memperhatikan pendidikan intelektual dan penguasaan material.
            Pada masa jayanya pendidikan islam kedua pola pendidikan tersebut menghiasi dunia islam, sebagai dua pola yang berpadu dan saling melengkapi. setelah pola pemikiran rasional diambil alih pengembangannya oleh dunia barat (eropa) dan dunia islampun tinggal pola pemikiran sufistik, yang sifatnya memang sangat memperhatikan kehidupan batin, sehingga mengabaikan perkembangan dunia material. Dari aspek inilah dikatakan pendidikan dan kebudayaan islam mengalami kemunduran, atau setidak-tidaknya dapat dikatakan pendidikan islam mengalami kemandegan.
            Selanjutnya diungkapkan oleh M.M. Sharif, dalam bukunya muslim thought, bahwa pikiran islam menurun setelah abad ke XIII M dan terus melemah sampai abad keXVIII M. Diantara sebab-sebab melemahnya pemikiran islam tersebut, antar lain dilukiskannya sebagai berikut:
1.      Telah berkelebihan filsafat islam (yang bercorak sufistik) yang dimasukkan al ghozali dalam alam islami di timur, dan berkelebihan pula ibnu rusyd dalam mmemasukkan islamnya (yang bercorak rasionalistis) kedunia islam dibarat al ghazali denga filsafat islamnya menuju kearah bidang rohaniyah hingga menghilang ia kedalam mega alam tasawuf, sedangkan ibnu rusyd dengan filsafatnya menuju kearah yang bertentanga dengan al ghazali. Maka ibnu rusyd dengan filsafatnya menuju kejurang materialisme. al gahzali mendapat sukses ditimur, hingga pendapat-pendapatny merupakan satu aliran yang terpenting. Ibnu rusyd mendapat sukses dibarat hingga pikiran-pikirannya menjadi pimpinan yang penting bagi alam pikiran barat.
2.      Umat islam, terutama para pemerintahannya (khalifah, sultan, amir--amir) melalaikan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, dan tidak memberi kesempatan untuk berkembang. Kalau pada mulannya para pejabat pemerintahan sangat memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan, dengan memberikan penghargaan  yang tinggi kepada para ahli ilmu pengetahuan, maka pada masa menurun melemahnya kehidupan umat islam ini, para ahli ilmu pengetahuan umumnya terlibat dalam urusan-urusan pemerintahan, sehingga melupakan pengembangan ilmu pengetahuan.
3.      Terjadi pemberonytakan-pemberontakan yang dibarengi dengan serangan dari luar, sehingga menimbiulaknm kehancuran kehancuran yang mengakibatkan berhentinya kegiatan pengembagan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di dunia islam. Sementara itu obor pikiran islam berpindah tangan ketangan kaum masehi, yang mereka ini telah mengikuti jjejak kaum muslimin yang menggunakan hasil buah pikiran yang mereka capai dari pikiran islam itu[1].


[1] M.M.Syarif,Muslim Thought  (Terj.Fuad M.Fachuddin) Diponegoro, Bandung, hal. 161-164.

Rabu, 24 November 2010

Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi

Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi
Penyebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawi dapat kita tinjau dari dua faktor sebagai berikut:
a.    Faktor internal
Parah Shah sesudah Shah Abbas I kurang memiliki bakat dan kecakapan untuk memimpin negara, mereka lebih suka hidup beroya-foya dari pada memikirkan negara dan masa depan kerajaannya, banyak wanita cantik dari Georgia yang dijadikan herem-herem istana untuk memuaskan nafsu oleh Shah Sulaiman, lebih mengutamakan ulama syi’ah yang memaksakan pendapat kepada aliran sunni sehingga membangkitkan kemarahan golongan sunni Afganistan yang akhirnya mereka berontak dan menentang. Kemudian bertambah parah lagi setelah pasukan Qizil-bash menekan para penguasa karena mereka digusur atau dikurangi perannya di istana oleh Abbas I, sementara pasukan Ghulam kurang militan.
Di samping itu hampir seluruh penguasa kerajaan Safawi tidak menyiapkan kader calon penggantinya secara baik sehigga keturunan kerajaan hanya mengandalkan haknya sebagai pewaris kerajaan tanpa berusaha secara maksimal untuk melatih kemilterannya dan mencari pengalaman menjadi pemimpin di luar istana.
b.    Faktor eksternal
Timbulnya kekecewaan golongan sunni akibat dari perlaukan Shah Husain yang lebih mengutamakan ulama syiah yang sering memaksakan pendapat para golongan sunni, maka pada tahun 1709 M, pasukan Afganistan dengan pimpinan Mir Vyas mengadakan pemberontakan dan berhasil menguasai Kandahar. Bagian lain suku Abdali Afganistan juga memberontak di Herat dan mengepung Mashad. Mir Vays diganti putranya Mir Mahmud dan ia berhasil memperkuat pendukungnya serta mempersatukan pasukan dengan pasukan Ardatil, lalu ia berusaha memperkuat wilayah kekuatannya dan merebut negeri-negeri Afganistan dari kekuasaan Safawi lalu berusaha menguasai Persia. Akhirnya Shah Husein terpaksa mengakui kekuasaan Mahmud dan kepadanya diberikan kekuasaan di Kandahar sebagai gubernur dengan gelar Husein Quli Khan (budak Husein). Pada tahun 1722 M daerah Kirmani diduduki dan Mahmud mengepung kota Istahan selama enam bulan lalu memaksa Husain menyerah tanpa syarat akhirnya pada tanggal 1 Muharam 1135 H / 12 Oktober 1722 M Shah Husein menyerah dan Mahmud berhasil memasuki kota Istahan pada tanggal 25 Oktober 1722 M.
Dengan meyerahnya Shah Husain kepada Mahmud, Sahh Tahmasp II putra Shah Husain dengan dukungan kekuatan pasukan suku Qajar memproklamasikan dirinya sebagai raja yang berkekuasaan penuh atas Persia dan bertempat tinggal sementara di kota Astarabad Persia timur laut tetapi pada tahun 1729 M muncul kekuatan baru. Nadir Quli dari suku Afshan yang tidak menginginkan wilayah Persia di bawah kerajaan orang-orang Afghan, Turki atau bangsa-bangsa lain sehingga Mahmud yang telah digantikan oleh Amir Ashraf saudaranya yang sedang menduduki kota Isfahan digempur oleh Nadir dan berhasil menduduki kota Istahan dan mempersilahkan Tahmasp II tetap menduduki tahta kerajaan, namun urusan keamanan dan ketatanegaraan untuk sementara masih berada di tangan Nadir Quli.
Pada bulan Agustus 1732 M Shah Tahmasp II dipecat oleh Nadir Quli, kemudian anak Tahsamp I bernama Abbas III menggantikannya sebagai Shah (raja) tetapi tanggal 24 Syawal 1184 H / 8 Maret 1736 Nadir Quli secara resmi dinobatkan sebagai Shah Iran, dengan demikian berakhir Dinansti Safaiyah.
Taufiqurohman, H. Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam, Surabaya: Pustaka Islamika, 2003.
Yatim, Badri. M.A. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, 2007.

Perkembangan dan Kemajuan Peradaban Dinasti Safawi

Perkembangan dan Kemajuan Peradaban
1.    Politik
Kemajuan politik ditandai dengan luasnya wilayah kerajaan yang mencakup Khurasan di sebelah timur, di sekitar laut Kaspia sebelah utara, Asia Kecil, Persia Barat Daya dan kepulauan Hurmuz di sebelah selatan, di samping itu dukungan militer dan beberapa faktor pendukung lainnya di antaranya militan dan berupa besarnya ambisi para raja untuk mewujudkan imperium besar di bawah aliran syi’ah serta lemahnya kontrol militer Turki terhadap wilayah yang luas dari pemerintahan pusat.
2.    Militer
Dengan menghilangkan dominasi pasukan Qizil-bash atas kerajaan Safawi dengan cara membentuk pasukan baru yang anggotanya terdiri dari budak-budak, tawanan perang bangsa Georgia, Armenia, dan Sircassia, untuk merebut kembali wilayah-wilayah kekuasaannya yang tidak hilang.
3.    Bidang ekonomi
Perkembangan perekonomian Safawi lebih-lebih sebelah kepulauan Hurmus dikuasai dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas, sehingga jalur dagang laut antara timur dan barat yang biasa diperebutkan oleh Belanda, Inggris, dan Perancis sepenuhnya menjadi milik kerajaan Safawi dan sektor pertanian tanah Persia dikenal sebagai tanah yang subur.
4.    Bidang ilmu pengetahuan
Dalam sejarah Islam bangsa Persia dikenal sebagai bangsa yang berpendapatan tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan, sehingga ada beberapa ilmuan yang selalu hadir di majlis istana yaitu Sadar al-Dinal-Syaerazi (filosof) bahwa Al-Din al-Syarezi Muhammad Baqir Ibnu Muhamad (filsosof, ahli sejarah, teolog dan pernah mengadakan observasi terhadap kehidupan lebah-lebah.
5.    Bidang pembangunan fisik dan seni
Dengan menjadikannya Isfahan menjadi ibu kota kerajaan yang sangat indah dan berdiri bangunan-bangunan besar seperti masjid-masjid, rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah dan diperindah dengan taman-taman yang tata secara rapi. Secara keseluruhan terdapat 162 masjid, 46 akademik, 1802 penginapan dan 273 permandian umum.
Sedangkan di bidang seni sangat komplek dalam gaya arsitekturnya, seperti terlihat pada masjid-masjid, terihat pula dalam bentuk kerajinan tangan, keramik, karpet permadani, pakaian dan tenunan serta seni lukis yang memunculkan seorang pelukis yang bernama Bizhad.

Taufiqurohman, H. Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam, Surabaya: Pustaka Islamika, 2003.
Yatim, Badri. M.A. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, 2007.

Sistem Politik dan Bentuk Pemerintahan

Sistem Politik dan Bentuk Pemerintahan Dinasti Safawi
 Dinasti Safawi merupakan Dinasti Agama karena lebih dilandasi oleh praktek syiah, dimana pemimpinnya adalah raja-raja (shah-shah) yang diberi gelar khalifah, di antara raja-raja atau shah-shahnya yang pernah memimpin adalah Safi al-Din (1252-1334 M), Sadar al-Din Musa (1334-1399 M), Khawaja Ali (1399-1427 M), Ibrahim (1427-1447 M), Juneid (1447-1460 M), Haidar (1460-1494 M), Ali (1494-1501 M), Ismail I (1501-1524 M), Tahmasp I (1524-1576 M), Ismail II (1576-1577 M), Muhammad Khudabanda (1577-1587 M), Abbas I (1588-1628 M), Safi Mirza (1628-1642 M), Abbas II (1642-1667), Sulaiman (1667-1694 M), Husain (1694-1722 M), Tahmasp II (1722-1732), Abbas II (1722-1732 M), Abbas III (1732-1736 M).
Raja yang dianggap paling berjasa dalam memulihkan kebesaran kerajaan Safawi sekaligus membawanya ke puncak kemajuan adalah Shah Abbas (1588-1629). Langkah awal yang dipilihnya adalah rekontruksi tentara dengan menghilangkan dominasi pasukan Qizil-bash sebagai gantinaya ia membentuk unit pasukan berasal dari kalangan Ghulam (budak-budak) dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia dan Sircassia yang telah ada sejak Raja Thamas I di bawah pimpinan Allahberdi Khan, seorang budak Georgia yang telah masuk Islam. Kemudian mereka diangkat dalam jabatan pemerintah, baik jabatan yang pernah diduduki oleh Qizil-bash maupun jabatan penguasa di daerah-daerah.
Di samping itu, unit-unit artileri juga diorganisasi untuk memberikan kekuatan perang modern kepada tentara syah dan membuat mereka sama dengan Janissari-Janissari Usmaniyah kombinasi para budak  Kaukasia dan infanter-artileri Persia ini seperti diakui lapius telah mampu memberi kekuatan militer “profesional” kepada Syah Abbas untuk kemudian mengkonsolidasi batas-batas wilayah dan membangun kekuatan internalnya. Dia (Abbas) tidak ingin terjerebab seperti pendahulunya (Ismail I).
Untuk itulah dia “kembali” kepada metode-metode timur tengah Islam abad-abad silam tentang bagaimana mengorganisasi militer Islam. Apabila kita cermati langkah Syah Abbas ini., dapat dikatakan sebagai upaya antisipatif dengan “menghilangkan” idiologi nasionalisme yang salah. Karenanya, meskipun Syah Abbas tetap mempertahankan idiologi negara, tetapi nampak lebih terbuka dan torelan seperti yang dibuktikan dengan kebijakan politik luar negeri yaitu, ia bersedia mengadakan perjanjian damai dengan kerajaan Turki Usmani yang disepakatinya pada tahun 1589 M. bahkan untuk kepentingan stabilitas kedaulatannya, perjanjian itu “dilengkapi” dengan melepaskan provinsi Azerbaijan, Gorgia, dan sebagian wilayah Luristan, serta berjanji tidak akan menghina tiga kholifah pertama (Abu Bakar, Umar, Usman) dalam khutbah-khutbah Jum’at. Sebagai jaminan, ia menyarahkan saudara sepupunya Haidar Mirza, sebagai sandera di Istanbul.    
Langkah ini, sepintas memang merugikan dan mengurangi kedaulatan suatu negara yang baru bangkit, akan tetapi konsesi seperti ini sebenarnya merupakan langkah yang bijaksana demi keutuhan ketahanan nasional dari pada harus berseteru dengaa kekuasaan lain yang memang jauh lebih kuat. Barang kali dalam pertimbangan Syah Abbas, lebih baik mengalah untuk sementara waktu demi kemenangan jangka panjang.
Selanjutnya setelah Safawi memiliki kekuatan militer yang cukup kuat dan dengan bantuan nasehat militer Inggris. Sir Anthiny dan Sir Robetr Sherly. Safawi mulai membuat perhitungan ke luar. Sasaran utamanya adalah daerah-daerah yang pernah hilang dari kekuasaannya. Sebagai persiapan untuk mengamankan dan selanjutnya melangkah dalam perluasan kekuasaan terhadap daerah-daerah bagian timur, Syah Abbas memindahkan ibu kota kerajaan dari Qiswan ke Isfahat pada tahun 1597. Setahun kemudian ia melakukan serangan ke Herat, kemudian ke Marw dan Balk. Setelah diperoleh kemenangan di wilayah timur, barulah Syah Abbas mengalihkan serangannya ke wilayh barat, berhadapan dengan Turki Usmani. Perseteruan antara kedua kerajaan ini, penyababnya (antara lain) adalah perbedaan idiologi yang dianutnya, yakni kerajaan Syafawi (Syi’ah) sedangkan Turki Usmani Sunni.
Serangan ke Turki Usmani dilakukan Abbas akhir pemerintahan Sultan Muhammad III. Ketika itu Turki sedang berperang dengam Austria dan sedang mengahadapi pemberontakan Jalali di Asia Kecil. Dengan pasukan yang baru. Abbas dapat merebut Tibris Sirwan dan Baghdad. Tahun 1605-1606 menguasi kota Nakhchivan, Erivan, Ganja, Tiflis. Barikutnya pada bulan Maret 1622, dengan dukungan beberapa kapal Inggris, Safawi dapat menguasai kepulauan Hormuz dari tangan Portugis dan pelabuhan Gumron diubah namanya menjadi Bandar Abbas.
Masa Shah Abbas inilah dipandang sebagai puncak kerajaan Safawi. Kerajaan ini mencapai tingkat kemajuan yang disegani oleh dunia internasional. Kemajuan politiknya ditandai dengan luasnya wilayah kerajaan yang mencakup Khurasan di sebelah timur, sekitar laut Kaspia sebelah utara, Asia Kecil, Persia Barat Daya di sebelah barat dan kepulauan Hurmuz di sebelah selatan. Meskipun demikian, karena didukung dengan birokrasi profesional, maka Syah Abbas (Abbas I 1587-1629) mampu mengontrol wilayahnya dengan baik.

Taufiqurohman, H. Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam, Surabaya: Pustaka Islamika, 2003.
Yatim, Badri. M.A. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, 2007.