Jumat, 15 Juli 2011

Aliran-aliran dalam psikologi perkembangan

Aliran-aliran dalam psikologi perkembangan
  1. Aliran Nativisme

Nativisme (nativism) adalah sebuah dokttrin filosofis yang berpengaruh besar terhadap aliran pemikiran psikologis. Tokoh utama aliran ini bernama Arthur Schopenhauer (1788-1860) seorang filosof Jerman. Aliran filsafat nativisme konon di juluki sebagai aliran pesimistis yang memandang segala sesuatu dengan kaca mata hitam. Mengapa demikian? Karena para ahli penganut berkeyakinan bahwa perkembangan manusia itu di tentukan oleh pembawaanya, sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa. Dalam ilmu pendidikan, pandangan seperti ini disebut “pesimisme pedagogis”.
Aliran ntivisme hingga kini masih berpengaruh besar dikalangan beberapa ahli, tapi tidak semutlak dulu lagi, diantanya yang dipandang sebagai nativis adalah noam a. Chomsky kelahiran 1928. Seorang ahli linguistic yang sangat terkenal saat ini. Chomsky mengatakan bahwa perkembangan penguasaan bahasa pada manusia tidaklah dijelaskan semata-mata hanya oleh proses belajar, tetapi juga oleh kecenderungna biologis yang dibawa sejak lahir.
Namun demikian Chomsky tidak menafikan sama sekali peranan belajar dan pengalaman berbahasa juga lingkungan. Baginya semua ini ada pengaruhnya, namun pengaruh bawaan asih tetap lebih tinggi disbanding perkembangan manusia. (Bruno, 1928)
  1. Aliran Empirisme

Kebalikan dari aliran nativisme adalah empirisme dengan tokoh utama John Locke (1632-1704). Nama asli aliran ini adalaah “The School of British Empiricims” (aliran emperisme inggris). Namun, aliran ini lebih berpengaruh terhadap para pemikir Amerika Serikat, sehingga melahirkan sebuah aliran filsafat bernama “environmentalisme” (aliran lingkungan) dan psikologi bernama “environmental psychology” (psikologi lingkungan) yang relative masih baru.
Doktrin aliran empirisme yang amat mashyur adalah “tabula rasa”, sebuah istilah bahasa latin yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong. Doktrin tabula rasa menekankan arti penting pengalaman, lingkungan, dan pendidikan dalam arti perkembangan manusia itu semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir di anggap tidak ada pengaruhnya. Dalam hal ini, para penganut empirisme menganggap setiap anak lahir seperti tabula rasa, dalam keadaan kosong, tak punya kemampuan dan bakat apa-apa. Hendak menjadi apa seorang anak kelak bergantung pada pengalaman /lingkungan yang mendidiknya.
  1. Aliran Konvergensi

Aliran konvergensi merupakan gabungan antara aliran empirisme dengan aliran nativisme. Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia. Tokoh utama korvegensi bernama Louis William Stern (1871-1938), seorang filosof dan psikolog jerman.
Dalam menetapkan factor yang mempengaruhi perkembangan manusis setrm tidak hanya berpegangan pada lingkungan saja maupun pengalaman saja namun namun berpegang pada kedua factor yang sama pentingnya.
Samapai sejauhmanakah pengaruh pembawaan atau lingkungan dalam perkembangan masa depan seseorang, mungkin jawaban antara orang perorang akan berbeda, sebagian orang mungkin menjawab factor lingkungan yang lebih berpengaruh, namun dalam hal pembawaan yang bersifat jasmaniah hamper dapat dipastikan bahwa semua orang sama, yakni akan berbentk badan, berambu, bermata sama dengan kedua orang tuanya, sebagai contoh anak keturunan barat akan umumnya rambutnya pirang .
Akan tetapi dalam hal pembawaan yang bersifat rohani sangat sulit kita kenali, banyak bukti yang menunjukkan bahwa watak dan bakat seseorang tidak sama dengan orangtua namun setelah ditelusuri ternyata watak dan bakatnya sama dengan kakeknya . dengan demikiian tidak semua bakat dan watak seseorang tidak dapat langsung turun dari orang tuanya, tapi mungkin kakek, atau lainnya .
Dari uraian diatas ada beberapa factor yang mempengaruhi perkembangan terdiri atas dua macam yaitu:
  1. Faktor intern, yaitu factor yang ada dalam diri seseorang yang terdiri atas pembawaan dan potensi psikologi .
  2. Faktor eksternal, yaitu hal-hal yang dating dari luar dirinya yang meliputi lingkungan , dan pengalaman dalam berineraksi.

Untuk lebih jelasnya lihat sumbernya di buku: Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan pendekatan baru, cetakan ke-13 PT Remaja Rosdakarya Bandung 2008

1 komentar:

  1. Terus sajikan gan informasi yang bermutu seperti artikel ini, agar kita semua makin terbuka cakrawala berfikirnya dan juga mendapatkan informasi terbaik. Terima kasih banyak deh buat anda selaku admin situs ini.

    BalasHapus