Kamis, 18 November 2010

Pengertian Antroposentris

Pengertian Antroposentris
Aliran antroposentris menganggap bahwa hakikat realitas transenden itu bersifat intrakosmos dan impersonal. Ia berhiubungan erat dengan masyarakat kosmos, baik yang natural maupun yang supra natural dalam arti unsur-unsurnya. Manusia adalah anak kosmos (alam semesta), unsur supra natural dalam dirinya adalah merupakan sumber kekuatannya. Tugas manusia sendiri adalah melepaskan unsur natural yang jahat.
Dengan demikian, manusia harus mampu menghapus kepribadian kemanusiaannya untuk meraih kemerdekaan dari lilitan naturalnya. Orang yang tergolong dalam kelompok ini berpandangan negatif terhadap dunia karena menganggap keselamatan dirinya terletak pada kemampuannya untuk membuang semua hasrat dan keinginannya. Sementara ketakwaannya lebih diorientasikan kepada praktek-praktek pertapaan dan konsep-konsep magis. Tujuan hidupnya bermaksud menyusun kepribadiannya ke dalam realita impersonalnya.
Anshari menganggap manusia yang berpandangan antroposentris sebagai sufi adalah mereka yang berpandangan mistis (ghaib) dan statis. Padahal manusia antroposentris itu sangat dinamis (bergerak maju), karena menganggap hakikat realitas transenden yang bersifat intrakismos dan impersonal datang kepada manusia dalam bentuk daya sejak manusia lahir. Daya itu berupa potensi yang menjadikannya mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Manusia yang memilih kebaikan akan memperoleh keuntungan melimpah (surga), sedangkan manusia yang memilih kejahatan maka ia akan memperoleh kerugian melimpah pula (neraka). Dengan dayanya, manusia mempunyai kebebasan mutlak tanpa campur tangan realitas transenden.

sumber : Muhammad Fazlur Rahman Ansari, Konsepsi Masyarakat Islam Modern. Terj. Juniarso Ridwan dkk. (Bandung: Risalah, 1984), 92.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar